Kamis, 14 Juli 2022

 

AKSI NYATA MODUL 3.3

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

JURNAL LITA

JURNAL LITERASI dan BERCERITA SEBAGAI PROGRAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN LITERASI DAN KOMUNIKASI MURID

 



 

 

 

Disusun Oleh:

MUHAMMAD TAUFIQ, M.Pd

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

ANGKATAN 04

KABUPATEN MAGELANG


 

 

A.    PERISTIWA (FACT)

1.      Latar Belakang Aksi Nyata

Kemampuan literasi anak masih rendah. Kesulitan memahami, menggali, dan mengolah informasi dengan benar. Selain itu, Keterampilan berpikir kritis dan berkomunikasi anak juga belum terlatihkan dengan baik selama Pandemi. Berdasarkan survei tingkat literasi dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 2019 yang lalu, Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara yang berpartisipasi. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia termasuk ke dalam 10 negara yang memiliki tingkat literasi paling rendah. Kemajuan era digital membuat orang-orang dapat menerima informasi dengan lebih cepat dan mudah Namun, tidak semua informasi yang tersedia tersebut adalah informasi yang benar (https://www.kompasiana.com/i). Rendahnya literasi menyebabkan anak minim informasi di tengah mudahnya mendapatkan informasi, selain itu anak mudah menerima berita yang bersifat Hoax, karena tidak membaca, mengolah informasi secara menyeluruh.

Budaya literasi juga sangat terkait dengan pola pembelajaran. Kemampuan berbahasa adalah kunci utama terselenggeranya pendidikan dengan baik. Literasi merupakan salah satu bentuk aplikatif dari kegiatan berbahasa yang tak sebatas pada sistem-sistem bahasa (lisan/tulis) melainkan mensyaratkan pengetahuan tentang bahasa tersebut digunakan baik dalam konteks lisan maupun tertulis untuk menciptakan sebuah wacana. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk melatih dna meningkatkan literasi anak dalam program-program sekolah.

Anak harus disiapkan sesuai dengan kodrat zamannya, Era Revolusi Industri 4.0 menuntut anak menguasai keterampilan Abad 21, yaitu Berfikir Kritis (Critical thinking) dan Komunikatif (Comunication), kolaborasi (Colaboration), dan Kreatifitas (Creativy). Di saat cepatkan akses berkomunikasi, maka keterampilan berkomunikasi menjadi hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh murid. Komunikasi sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam setiap aspek kehidupan, ada 6 poin penting komunikasi dalam dunia kerja (https://edukasi.sindonews.com/):

1.      Sarana bertukar informasi

2.      Menjadi penghubung satu dengan yang lainnya

3.      Sebagai sarana pemecahan masalah

4.      Cepat tanggap dalam pengambilan keputusan

5.      Meningkatkan produktifitas kerja

6.      Mempunyai personal branding yang baik

Kondisi pandemic yang melanda pendidikan Indonesia membawa dampak terhadap pendidikan. Melalui pembelajaran jarak jauh, komunikas menjadi sebuah kendala utama. Hal ini berakibat pada keteramilan komunikasi anak juga berkurang. Mereka lebih asik dnegan gadget nya sendiri, jarang berkomunikasi secara langsung antar anak. Akibatnya ketika di kelas anak diminta untuk berkomunikasi, sebagian besar anak pasif dalam berkomunikasi. Buakn berarti mereka tidak bisa, tidak paham dengan pembelajaran tetapi karena mereka tidak terbiasa menyampaikan ide, gagasan, pendapat mereka, mereka tidak terlatih untuk berpresentasi. Hal ini menjadi perhatikan guru dalam pembelajaran.

Program Jurnal Lita ini diharapkan berdampak pada murid karena akan membudayakan murid untuk memiliki kemampuan literasi yang baik, melatih berpikir kritis, dan mampu berkomunikasi mengutarakan hasil literasi mereka. Hal ini sangat penting dalam membangun pola pikir anak berkemajuan era Revolusi Industri 4.0.

 

2.      Alasan Aksi Nyata

Aksi nyata Jurnal Lita ini dipilih karena memiliki tujuan yang berdampak pada anak, yaitu sebagai berikut:

a.       Meningkatkan kemampuan literasi anak

b.      Meningkatkan kemampuan berkomunikasi anak

c.       Memicu anak berpikir kritis terhadap sebuah informasi

d.      Meningkatkan kemampuan mendengarkan informasi dengan baik

e.       melatih anak mengutarakan suaranya

f.        melatih anak menentukan pilihan sikap terhadap informasi

g.      melatih anak dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

 

3.      Hasil Aksi Nyata

Jurnal Lita adalah kepanjangan dari Jurnal Literasi dan Bercerita. Program ini memadukan kemampuan berliterasi yang identik membaca dan menulis dengan bercerita, keterampilan berkomunikasi menyampaikan apa hasil dari berliterasi yang sudah dilakukan. Jurnal Lita adalah program yang diharapkan berdampak pada anak didik, dengan memperhatikan suara, pilihan, dan kepemilikan dari anak didik. Melalui Jurnal Lita, keterampilan berliterasi dan berkomunikasi anak didik dilatih dan dikembangkan sehingga diharapkan anak didik menjadi generasi masa depan yang pandai menggali, memilih, mengolah, menganalisis, dan menyimpulkan berbagai informasi yang ada. Serta anak didik mampu menyampaikan gagasan, ide, dan kesimpulan literasinya, mempresentasikan, menghargai, serta merespon literasi. Keterampilan literasi dan berkomunikasi (bercerita) inilah yang sangat penting dan dibutuhkan anak didik untuk menjadi generasi emas di era revolusi industry 4.0.

Aksi nyata dimulai dengan mempresentasikan program Jurnal Lita kepada dewan guru dan stake holder SMP Negeri 1 Muntilan. Presentasi program dilaksanakan pada saat workshop kurikulum dan Sosialisasi Program Berdampak pada Murid dari Calon Guru Penggerak (CGP).



 Gambar Sosialisasi Program Jurnal Lita kepada Warga Sekolah

 

Pada sesi persentasi Program Jurnal Lita, dewan guru antusias memperhatikan secara detail apa, mengapa, dan bagaimana Program Jurnal Lita di SMP N 1 Muntilan direncanakan. Dalam pemaparannya, CGP juga menggali suara dari dewana guru, mendengarkan komentar, pendapat, dan saran yang diberikan guna memperbaiki pelaksanaan program Jurnal Lita.


 

 Gambar Mendengarkan Suara Aspirasi Warga Sekolah

 

Secara umum, dewan guru setuju dengan program Jurnal Lita yang diusulkan CGP. Program Jurnal Lita dapat diangkat sebagai program sekolah. Perlu diketahui selama ini di SMP N 1 Muntilan sudah ada program yang bertujuan melatih literasi anak didik. Program itu adalah Literasi Online yang disingkat LION. Program LION dilaksanakan dengan guru membuat 3-5 soal literasi dan Numerasi yang dikerjakan secara online oleh anak didik yang nantinya dipersiapkan untuk menghadapi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Mengutip Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemendikbud, AKM merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat.

Kehadiran Jurnal Lita dapat dijadikan sebagai salah satu program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diselenggaran di SMP N 1 Muntilan.

 

Pelaksanaan Program Jurnal Lita:

Program Jurnal Lita ini menerapakan konsep Kepemimpinan Murid (Student agency). Jika kita mengacu pada OECD (2021), ‘kepemimpinan murid’ berkaitan dengan pengembangan identitas dan rasa memiliki. Ketika murid mengembangkan agency, mereka mengandalkan motivasi, harapan, efikasi diri, dan growth mindset (pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan) untuk menavigasi diri mereka menuju kesejahteraan lahir batin (wellbeing). Hal inilah yang kemudian memungkinkan mereka untuk bertindak dengan memiliki tujuan, yang membimbing mereka untuk berkembang di masyarakat. Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (saat murid memiliki agency), maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka.

1.      Suara (voice)

Dalam Modul 3.3 Pengelolaan Program Berdampak Pada Murid-Pendidikan Guru Penggerak, dijelaskan bahwa ketika berbicara tentang “suara” murid, maka sebenarnya bukan hanya berbicara tentang memberi murid kesempatan untuk mengomunikasikan ide dan pendapat, namun juga mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai. Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya.

Pada Jurnal Lita ini, mendengarkan, mempertimbangkan, mempromosikan suara murid dilakukan melalui membuka ruang diskusi tanya jawab dalam hal:

a.       Memberikan kesempatan murid untuk bertanya, memberikan pendapat, berdiskusi.

b.      Menggali pendapat murid tentang:

1)      Apa Tema Literasi yang akan dipelajari?

2)      Bagaimana cara bercerita hasil literasi?

3)      Kapan jadwal Jurnal Lita akan dilaksanakan?

4)      Bagaimana bentuk produk literasi yang akan dihasilkan?

c.       Membangun budaya berani mengutarakan pendapat, ide, gagasan.

d.      Membangun budaya saling mendengarkan dan merespon suara pendapat orang lain.

e.       Membangun kepercayaan diri murid bahwa setiap suara berharga dan layak didengar.

f.        Melibatkan murid dalam perencanaan pelaksanaan program.

 


Gambar Ruang Diskusi Suara Murid

  2.      Pilihan (Choise)

Dalam Modul 3.3 Pengelolaan Program Berdampak Pada Murid-Pendidikan Guru Penggerak, dijelaskan bahwa:

a.       Penelitian yang dilakukan oleh Aiken, Heinze, Meuter, & Chapman, (2016) dan Thibodeaux et al. (2017) menyimpulkan bahwa jika kita menginginkan murid-murid kita mengambil peran tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, maka kita harus memberikan murid kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan belajar. 

b.      Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar (Aiken et al, 2016).  

c.       Memberikan murid pilihan juga meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid (Bandura, 1997).

 

Program Jurnal Lita memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk murid menentukan pilihannya tentang bagaimana program akan dilaksanakan. Pada tahap pilihan ini, yang dilakukan CGP selaku guru adalah sebagai berikut:

1)      Membuka cakrawala murid bahwa ada berbagai pilihan atau alternatif yang dapat dijadikan bahan literasi.

2)     Memberikan kesempatan bagi murid untuk memilih bagaimana mereka mendemonstrasikan pemahamannya tentang apa yang telah mereka pelajari.

3)     Memberi kesempatan pada murid untuk menentukan sendiri bentuk literasi yang mereka inginkan.

4)     memberikan kesempatan pada murid untuk mempresentasikan hasil literasi sesuai dengan gaya , minat dan bakat mereka

5)     memberikan kesempatan pada murid untuk menggali sumber-sumber belajar sesuai minat mereka.

6)     Menggunakan musyawarah untuk mengambil keputusan, atau jika memang diperlukan melalui voting:

a)      Tema Literasi yang akan digunakan

b)      Hari dan waktu Jurnal Lita akan dilaksanakan

c)      Teknik menyampaikan hasil literasi.

d)      Bentuk produk literasi yang akan disebarkan

 

Gambar Proses Musyawarah dan voting menentukan pilihan murid

 

3.      Kepemilikan (ownership)

Voltz DL, Damiano-Lantz M. dalam artikel penelitiannya yang berjudul Developing Ownership in Learning. Teaching Exceptional Children (1993;25(4):18-22) menjelaskan bahwa kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan minat pribadi seseorang dalam proses belajar.  Jadi dengan kata lain, saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi (Modul 3.3 Pengelolaan Program Berdampak Pada Murid-Pendidikan Guru Penggerak).

Pada program Jurnal Lita ini, rasa kepemilikan murid terhadap hasil literasi diterapkan dengan mempresentasikan hasil literasi di depan kelas. Setelah murid selesai melakukan literasi dengan berbagai sumber literasi yang ada (mengakses internet melalui HP, buku bacaan, media social,dll), murid membuat sebuah tampilan yang digunakan untuk dipresentasikan di depan kelas. Murid yang maju ke depan untuk presentasi dipilih secara acak sehingga setiap murid diharapkan siap dengan hasil literasinya.

 Gambar Berkomunikasi Menceritakan Hasil Literasi

 

 

 


 

 

Pembelajaran Bermakna


Gambar Berkolaborasi Makna Hasil Literasi

 

Program akan bermakna pada murid jika murid juga memahami makna yang dilakukannya. Program Jurnal Lita, melatihkan keterampilan murid:

1.      Literasi, melalui Jurnal Lita murid berlatih keterampilan untuk berliterasi dengan:

a.       memilih tema bacaan,

b.      mencari berbagai sumber literasi,

c.       memvalidasi mana sumber yang terpercaya dan tidak, membaca dan

d.      memahami bacaaan dan informasi yang diperlukan

e.       menganalisis informasi

f.        meramu dan menyimpulkan hasil literasi.

 

2.      Bercerita, melalui Jurnal Lita murid berlatih keterampilan komunikasi:

a.       Menyampaikan dan mengkomunikasikan hasil literasi

b.      Melatih kepercayaan diri dalam berkomunikasi

c.       Melatih saling menghargai dalam berkomunikasi

d.      Melatih merespon dengan berpikir kritis dari hasil literasi yang disampaikan.

e.       Menceritakan kembali hasil literasi yang disampaikan oleh orang lain.

 

B.     PERASAAN (FEELING)

Selama menjalankan aksi nyata program Jurnal Lita ini sangat menyenangkan. Program Jurnal Lita yang dilakukan dengan menerapkan kepemimpinan murid (studeny agency) sangat berdampak terhadap antusias murid dalam mengikuti program Jurnal Lita. Selain itu, melalui 3 tahapan: Suara (voice), pilihan (choice), kepemilikan (ownership), lebih terasa keterlibatan murid secara aktif dalam program. Murid yang sebelumnya hanya sebagai objek program, sekarang dilibatkan dalam perencanaan program, bahkan jalannya program mengikuti harapan, keinginan, dan minat murid.

Guru, sebagai pemimpin pembelajaran sangat senang menjalankan proses student agency ini. Program dapat berjalan lancar dengan antusiasme tinggi murid terhadap jalannya program Jurnal Lita. Pada akhrinya tujuan pelaksanaan program agar berdampak pada murid dapat terwujudkan.

 

 

C.    PEMBELAJARAN (FINDING)

Pembelajaran yang didapatkan dari pelaksanaan Program Jurnal Lita ini adalah program yang baik adalah program yang berdampak pada murid. Melalui pola pikir berbasis aset (Aset based thinking) maka guru dapat membuat program-program dengan mamanfaatkan aset yang dimiliki sekolah sebagai sebuah kekuatan.

Ketika murid dilibatkan secara aktif dalam program sekolah melalui kepemimpinan murid (student agency), maka antusiasme murid terhadap program pun menjadi tinggi sehingga keterlaksanaan program berjalan lancar.

Program Jurnal Lita dapat berjalan lancar karena melalui 3 tahapan kepemimpinan murid (student agency), yaitu Suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership). Melalui program Jurnal Lita, murid belajar memimpin program dengan ikut serta dalam perencanaan program dan menentukan bagaimana program akan dijalankan. Keterampilan literasi murid dapat dilatihkan dan ditingkatkan. Selain itu, adanya kegiatan bercerita, menceritakan hasil literasi nya, maka keterampilan berkomunikasi sebagai salah satu keterampilan abad 21 juga dapat dilatihkan dan ditingkatkan. Diharapkan melalui program Jurnal Lita ini dapat mempersiapkan keterampilan literasi dan komunikasi murid untuk menghadapi persaingan era revolusi 4.0.

 

D.    PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

Rencana perbaikan Program Jurnal Lita untuk pelaksanaan di masa mendatang adalah:

1.      Memperbanyak sumber literasi yang dapat diakses oleh murid baik cetak maupun digital.

2.      Mengaktifkan kembali pojok baca baik di kelas maupun di luar kelas.

3.      Mengusulkan adanya panggung literasi sebagai tempat mengekspresikan/bercerita hasil literasi murid.

4.      Membuat program Jurnal Lita sebagai program sekolah berkelanjutan.

  AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID   JURNAL LITA JURNAL LITERASI dan BERCERITA SEBAGAI PROGRAM MEN...