Kamis, 17 Februari 2022

 

LAPORAN AKSI NYATA

MODUL 1.4

BUDAYA POSITIF


KOMITMEN KEYAKINAN KELAS SEBAGAI UPAYA MENCIPTAKAN

BUDAYA POSITIF SEKOLAH

 


 

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan karakter peserta didik menjadi aspek “Garapan” utama dalam pendidikan selain pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan karakter biasanya dituangkan dalam peraturan sekolah, tata tertib sekolah dan diimplementasikan dalam pembelajaran. Peraturan dan tata tertib sering diiringi dengan sanksi dan hukuman jika terjadi pelanggaran. Peserta didik yang tidak disiplin waktu, terlambat, seragam tidak lengkap dan sebagainya sering kali mendapatkan sanksi dan hukuman. Sanksi dan hukuman diberikan untuk memberikan efek jera agar peserta didik tidak mengulangi pelanggaran lagi. Akibatnya terjadi keterpaksaan peserta didik untuk mengikuti peraturan dan tata tertib tersebut. Mereka disiplin karena takut terkena sanksi, takut dihukum. Andaikan peraturan dan tata tertib itu ditiadakan, apakah peserta didik masih tetap disiplin?

 Belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman. Hukuman justru adalah salah satu alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali. Tujuan disiplin positif adalah untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.

Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan. Mengubah peraturan kelas/sekolah menjadi keyakinan akan membuat murid lebih menyadari akan keyakinan yang sudah mereka sepakati bersama.

Sekolah perlu menciptakan budaya positif yang dibuat dengan melibatkan murid, menghargai pendapat-pendapat murid, dan disepakati oleh murid.  Nilai dan peran guru penggerak penting untuk membuat, mengawal, dan mewujudkan budaya positif. Nilai dan peran tersebut akan semakin jelas target tujuan dan sasarannya ketika dibentuk sebuah visi budaya positif.  Melalui budaya positif, murid akan lebih termotivasi untuk menjalankan keyakinan-keyakinan yang sudah disepakati serta konsekuensiya. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan konsep peraturan dan hukuman yang selama ini diterapkan di sekolah.

Selama ini untuk menciptakan budaya positif di sekolah masih menerapkan peraturan-peraturan kelas/sekolah beserta dengan sanksi dan hukumannya. Padahal setelah mempelajari modul 1.4 ini, penerapan peraturan hanyalah berdampak jangka pendek karena menekan murid untuk mematuhi pearturan tersebut. Budaya positif akan berdampak jangka panjang ketika dibuat kesepakatan keyakinan yang mendorong murid secara sadar diri untuk melakukan budaya positif tersebut. Oleh karena itu, dibutuhan program “Komitmen Budaya Positif” oleh seluruh murid agar budaya positif dapat disepakati dan dilakukan oleh semua murid.

 

 

B.     Tujuan

Tujuan dari aksi nyata ini adalah:

1.      Kolaborasi antara guru dan siswa untuk membentuk kesepakatan keyakinan kelas.

2.      Membuat pajangan keyakinan kelas

3.      Mendeklarasikan dan menyepakati bersama keyakinan kelas.\

4.      Berkomitmen menjunjung tinggi keyakinan kelas untuk menciptakan budaya positif sekolah.

 

C.    Deskripsi Aksi Nyata

1.      Perencanaan

Pada tahap perencanaan, yang dilakukan adalah:

a.       Membuat link jamboard untuk menampung aspirasi keyakinan kelas tiap peserta didik.

b.      Berkolaborasi membahas aspirasi peserta didik untuk mendapatkan keyakinan kelas yang akan disepakati.

c.       Membuat pajangan kelas berisikan keyakinan kelas

d.      Mendeklarasikan dan menyepakati keyakinan kelas dengan membubuhkan cap telapak tangan tiap peserta didik dan juga guru sebagai wujud komitmen untuk menjunjung tinggi  keyakinan kelas agar terwujud budaya positif sekolah.

2.      Pelaksanaan

Pelaksanaan aksi nyata dilakukan pada pembelajaran tatap muka (PTM). Berdasarkan hasil koordinasi dengan waka kurikulum dipilihlah kelas 7 sebagai kelas yang mendapatkan perlakuan. Waktu pelaksanaan dilakukan pada awal semester genap. Guru berserta peserta didik bercermin dan merefleksikan pengalaman budaya kelas selama semester gasal yang sudah dilakukan. Mengambil kekuatan-kekuatan yang sudah dicapai agar dapat dimaksimalkan lagi dalam sebuah keyakinan kelas. diharapkan dengan keyakinan kelas, budaya positif kelas dapat terwujudkan.

 

D.    Hasil Aksi Nyata

1.      Mengumpulkan Aspirasi Peserta Didik Secara Online Melalui Aplikasi Jamboard

a.      Ketidaknyamanan Selama Semester Gasal

Refleksi pengalaman dari sebuah ketidaknyamanan yang dirasakan selama pembelajaran semester gasal.


Gambar 1. Ketidaknyamanan/Masalah Peserta didik dalam Pembelajaran


b.      Suasana Kelas/Pembelajaran Impian Peserta Didik

Menggali harapan dan impian peserta didik terhadap suasana kelas, interaksi antar teman, interaksi peserta didik dengan guru, pembelajaran, penugasan, dan sebagainya yang ingin diperoleh di semester genap dan seterusnya.


Gambar 2. Suasana Pembelajaran Impian Peserta Didik

 

c.       Keyakinan Kelas Yang Disepakati

Guru mengenalkan apa yang dimaksud keyakinan kelas. Guru berkolaborasi dengan peserta didik membahas keyakianan kelas yang akan disepakati berdasarkan impian dan harapan peserta didik.

Gambar 3. Keyakinan Kelas Peserta Didik

 

2.      Pembuatan Pajangan Keyakinan Kelas

Keyakinan kelas yang sudah disepakati antara peserta didik dan guru kemudian dituliskan dalam lembaran kertas besar untuk dipajang di kelas. Tujuan pemajangan adalah sebagai pengingat untuk memunculkan kesadaran diri, pembiasaan diri, dan menjunjung tinggi keyakinan kelas yang sudah disepakati. Dalam menangani  ketika ada kasus/ kejadian yang tidak diinginkan, pajangan dapat digunakan sebagai salah satu langkah segitiga restitusi yaitu mengingatkan kembali pada keyakinan kelas yang sudah disepakati.


Gambar 3. Pembuatan Pajangan Keyakinan Kelas

 

3.      Deklarasi Keyakinan Kelas

Deklarasi keyakinan kelas dilakukan dengan tujuan untuk menguatkan komitmen bersama guru dan peserta didik terhadap keyakinan kelas yang sudah disepakati. Langkah pertama adalah pembacaan bersama setiap poin keyakinan kelas. Selanjutnya setiap peserta didik diminta untuk membubuhkan cap telapak tangan mereka sebagai wujud persetujuan dan berkomitmen untuk menjunjung keyakinan kelas yang sudah dibuat. Bahkan guru (guru penggerak) juga ikut membubuhkan cap telapak tangannya sebagai tanda guru juga ikut berkomitmen menjaga keyakinan kelas.

Dengan deklarasi keyakinan kelas ini diharapkan kesadaran diri peserta didik sebagai motivasi internal, motivasi tertinggi, dapat terbentuk dalam diri sehingga dengan sadar diri mau menjalankan keyakinan kelas yang sudah disepakati.



 

 

Gambar 4. Deklarasi Keyakinan Kelas

4.      Produk Keyakinan Kelas

 

 

 




Gambar 5. Keyakinan Kelas 7C



E. Respon Peserta Didik

Peserta didik sangat antusias dengan pembentukan Keyakinan Kelas ini. Terlebih mereka dilibatkan dan aktif dalam menentukan merumuskan keyakinan kelas yang akan meraka sepakati bersama. Keyakinan kelas lebih mudah dihafalkan sehingga lebih mudah diingat untuk dilakukan. dengan keyakinan kelas suasana kelas menjadi lebih nyaman untuk belajar karena adanya saling menghargai, bekerja sama, tepat waktu, dan bertanggung jawab. 



F. Respon Guru

Guru mata pelajaran lain berterima kasih karena kelasnya sudah dibuatkan keyakinan kelas. sehingga kesadaran mereka untuk menjalankan keyakinan kelas semakin tinggi. guru lebih mudah mengingatkan dan mengkondisikan kelas karena sudah ada keyakinanan kelas. semoga kedepan keyakinan kelas ini akan benjadi budaya positif bagi sekolah. terima kasih guru penggerak 

G.   Refleksi Aksi Nyata

Pada awalnya, agak kesulitan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik apa itu keyakinan kelas. Hal ini dikarenakan yang dikenal dan dialami peserta didik selama belajar 6 tahun di SD adalah peraturan-peraturan kelas lengkap dengan sanksi dan hukumannya. Namun dengan guru memberikan perumpamaan:

“Mengapa perlu memakai helm saat berkendaraan?”

“Mengapa perlu memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak?”

Jika alasan memakai helm agar tidak ditilang polisi, maka memakai helm masih dianggap sebagai sebuah peraturan saja. Sekedar menghindari polisi, jika tidak ada polisi maka  tidak akan memakai helm. Namun jika memakai helm demi keamanan berkendara, maka keamanan ini adalah sebuah keyakinan. Dengan memahami memakai helm demi keamanan berkendara, maka kesadaran diri untuk memakai helm semakin kuat dan akan terus melakukan memakai helm saat berkendara karena demi keamanan diri.  Begitu juga dengan alasan memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak adalah demi Kesehatan, keselamatan, dan keamanan agar terhindar dari penyakin Covid-19 dan memutus penyebarannya.

            Setelah terbentuk keyakinan kelas dan deklarasi untuk saling berkomitmen menjaga keyakinan kelas, suasanya kelas menjadi lebih nyaman, jika ada yang melanggar keyakinan kelas juga lebih mudah untuk mengingatkan kembali keyakinan kelas apa yang sudah disepakati, sehingga manajemen kelas lebih baik dan pembelajaran lebih kondusif. Hal ini dikarenakan kesadaran peserta didik mulai muncul untuk melaksanakan keyakinan kelas dan budaya positif sudah mulai terwujud.

 

H.  Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Rencana ke depan semoga dapat berkolaborasi dengan semua guru mata pelajaran tentang keyakinan kelas, sehingga tercipta budaya positif kelas dan meluas menjadi budaya positif sekolah sehingga tercipta lingkungan sekolah layaknya taman siswa Ki Hajar Dewantara yang menyenangkan dan mendukung pembentukan pendidikan karakter peserta didik.


Link Youtube Diseminasi Budaya Positif:

https://youtu.be/MDiXzjciJqc

Link Drive Penerapan Keyakinan Kelas Sebagai Upaya mewujudkan Budaya Positif

https://drive.google.com/file/d/1_6cHmaixfGXrlm_MnMss4SdV-7e52Nok/view?usp=sharing


Kamis, 10 Februari 2022

 

LAPORAN AKSI NYATA

MODUL 1.2

PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK


IMPLEMENTASI PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK

DALAM MEWUJUDKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA


A.    Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional yang sudah dirumuskan berdasarkan Pancasila dan undang-undang dasar 1945. Tujuan pendidikan nasional dalam pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Peran guru sangatlah penting dalam menujudkan tujuan pendidikan nasional. Salah satu tujuan pendidikan yang sedang diangkat saat ini adalah profil pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila adalah Pelajar Pancasila adalah pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024.

Tujuan pendidikan nasional dan profil pelajar Pancasila tidak akan terwujud tanpa keberadaan guru yang menjalankan peran dan nilai-nilai dalam mendidik generasi penerus bangsa. Melalui program guru penggerak, pemerintah lebih menanamkan akan peran serta nilai-nilai guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila. Terdapat 5 butir peran dan nilai dari seorang Guru Penggerak (Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak) yaitu sebagai berikut:

Gambar 1. Peran dan Nilai Guru Penggerak

(Dokumen pribadi)


1.      Menjadi Pemimpin Pembelajaran

Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong wellbeing ekosistem pendidikan sekolah. Mari kita lihat terlebih dahulu kata pemimpin pembelajaran. Pemimpin Pembelajaran berarti seorang Guru Penggerak menjadi seorang pemimpin yang menitikberatkan pada komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, seperti kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, pengembangan guru serta komunitas sekolah, dll. Pemimpin pembelajaran yang mendorong wellbeing berpihak pada murid. Jadi seorang Guru Penggerak diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada murid, dengan mendukung tumbuh-kembang murid.

 

2.      Menggerakkan Komunitas Praktisi

Menggerakkan komunitas praktik untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. Seorang Guru Penggerak berpartisipasi aktif dalam membuat komunitas belajar untuk para rekan guru baik di sekolah maupun wilayahnya.

 

3.      Menjadi Coach Bagi Guru Lain

Menjadi coach dan mentor bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah. Seorang Guru Penggerak juga harus mampu mengembangkan poteni rekan sejawatnya, terutama peningkatan untuk pembelajaran. Guru Penggerak diharapkan juga bisa memantau perkembangan dari rekan guru lain tersebut.

 

4.      Mendorong Kolaborasi Antar Guru

Membuka ruang diskusi positif dan kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan di luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pada peran ini, seorang Guru Penggerak diharapkan mampu memetakan para pemangku kepentingan di sekolah (serta luar sekolah), serta membangun dialog antar para pemangku kepentingan tersebut.


5.      Mewujudkan Kepemimpinan Murid

Mendorong peningkatan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Peran seorang Guru Penggerak berarti membantu para murid ini untuk mandiri dalam belajar, mampu memunculkan motivasi murid untuk belajar, juga mendidik karakter murid di sekolah.


        Dalam menjalankan peran guru penggerak, seorang guru juga harus memiliki nilai-nilai guru penggerak. Nilai menurut Rokeach (dalam Hari, Abdul H. 2015), merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Lima nilai dari Guru Penggerak adalah: 

        Mandiri, 

        Reflektif, 

        Kolaboratif, 

        Inovatif, serta 

        Berpihak pada Murid


    Melalui aksi nyata berjudul “Implementasi Peran dan Nilai Guru Penggerak Dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila”, saya sebagai calon guru penggerak Angkatan 4 Kabupaten Magelang mencoba untuk mengimplementasikan peran dan nilai guru penggerak dalam kegiatan di sekolah. Melalui implementasi peran dan nilai guru penggerak ini diharapakan dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila sebagai visi yang akan dicapai.




B.     Tujuan

        Tujuan dari aksi nyata ini adalah:

1.      Menerapkan peran guru penggerak dalam pembelajaran di sekolah untuk membangun profil pelajar pancasila

2.      Menerapkan nilai guru penggerak dalam pembelajaran di sekolah untuk membangun profil pelajar pancasila

C.    Deskripsi Aksi Nyata

1.      Perencanaan

Pada tahap perencanaan, yang dilakukan adalah:

a.       Merancang kegiatan-kegiatan yang mencerminkan peran guru penggerak, meliputi:                                 1) Memimpin pembelajaran

2) Menggerakkan Komunitas Praktisi

3) Menjadi coach bagi guru lain

4) mendorong kolaborasi antar guru

5) Mewujudkan kepemimpinan murid

b.      Menerapkan nilai-nilai guru penggerak, yang meliputi mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, berpihak pada murid dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak.

c.       Mendokumentasikan setiap kegiatan peran dan nilai guru penggerak


2.      Pelaksanaan

Pelaksanaan aksi nyata implementasi peran dan nilai guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar pancasila ini dilakukan selama kegiatan di SMP Muhammadiyah Tanjung Muntilan Tahun pelajaran 2021/2022. 

 

D.    Hasil Aksi Nyata

1.      Peran Guru Penggerak

a)      Memimpin Pembelajaran

Gambar 2. Guru memimpin pembelajaran berbasis PhET Simulation
(Dokumen Pribadi)

Peran utama guru adalah memimpin pembelajaran. Melalui kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran guru memimpin pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tersampaikan dan peserta didik dapat menguasai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Peran memimpin pembelajaran dilaksanakan setiap hari sesuai dengan jadwal pelajaran. Guru mengemas pembelajaran yang menarik sesuai kodrat anak, mengedepankan kemerdekaan belajar demi mewujudkan profil pelajar Pancasila.

 

b)     Menggerakkan Komunitas Praktisi


Gambar 3. Menggerakkan Guru untuk meningkatkan pelayanan kepada peserta didik

(Dokumen Pribadi)


Dalam menggerakkan komunitas praktis, sebagai guru penggerak selaku wakil kepala sekolah urusan kurikulum menggerakkan para guru dalam pembuatan perangkat pembelajaran, seperti RPP dan penilaian. Selain itu juga aktif dalam memberikan informasi dan mengajak para guru untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan dan webinar baik yang diselenggarakan dinas pendidikan maupun pihak lain. Dengan mengikuti kegiatan pelatihan dan webinar diharapkan para guru dapat mengembangkan potensi diri dan wawasan yang berguna untuk pembelajaran di sekolah dan memajukan peserta didik.

 

c)      Menjadi Coach Bagi Guru Lain

Gambar 4. Menjadi coach bagi guru baru dalam praktikum IPA
(Dokumen Pribadi)

Dalam menjalankan peran sebagai coach bagi guru lain kali ini, guru penggerak melatih, membimbing guru baru dalam kegiatan praktikum IPA di kelas. Sebagai guru baru, sering bermasalah dengan manajemen kelas sehingga peserta didik asyik bermain sendiri, suasana kelas ramai, dan tujuan pembelajaran menjadi kurang tersampaikan dengan baik.

Guru penggerak mengajarkan bagaimana memanajemen peserta didik agar dapat kondusif dalam kegiatan praktikum secara berkelompok, bagaimana menjelaskan cara kerja praktikum, dan membimbing kelompok selama praktikum. Melalui peran coach ini, guru baru mendapatkan pengalaman memanajemen kelas dengan baik sehingga peserta didik dapat belajar secara kondusif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

 

d)     Mendorong Kolaborasi Antar Guru


Gambar 5. Kolaborasi dengan wali kelas dan waka kesiswaan 

(Dokumen Pribadi)

Berkolaborasi dengan guru selaku wali kelas dan wakil kepala urusan kesiswaan berkaitan dengan pembinaan peserta didik menjelang kegiatan PTM 100% terkait konsep pembelajaran yang akan dijalankan, aturan protocol kesehatan yang akan diterapkan, serta peran serta dukungan seperti apa dari orang tua/wali peserta didik agar PTM 100% dapat berjalan dengan lancar dan aman.

 

e)      Mewujudkan Kepemimpinan Peserta didik


Gambar 6. Mewujudkan kepemimpinan peserta didik dalam kerja kelompok dan presentasi 

(Dokumen Pribadi)


 

Melalui kegiatan berkelompok dan presentasi hasil kerja kelompok, guru mencoba mewujudkan jiwa kepemimpinan peserta didik. Dalam kerja kelompok ditunjuk ketua kelompok, diperlukan pembagian tugas agar tugas dapat terselesaikan dengan baik dan semua terlibat berkontribusi dalam kerja kelompok. Dalam presentasi hasil kerja, diperlukan keberanian,kepercayaan diri, dan juga pembagian tugas penyampaian hasil pekerjaan. Melalui kegiatan kerja kelompok dan presentasi dapat diwujudkan kepemimpinan peserta didik dalam belajar.

   

2.      Nilai-Nilai Guru Penggerak

a.      Mandiri

Gambar 7. Mengikuti Pendidikan Guru Penggerak
(Dokumen pribadi
)


Belajar sepanjang hayat menjadi semangat untuk terus mengembangkan potensi diri. Tersadar oleh kebutuhan diri sendiri dan terdorong oleh kemauan diri sendiri. Mandiri, tanpa menunggu ditunjuk ataupun diperintahkan oleh orang lain. Sebagai guru penggerak, sering mengikuti kegiatan pelatihan, webinar secara mandiri. Beberapa pelatihan yang diikuti adalah pelatihan pengelolaan laboratorium SMP, pelatihan Microsoft 365 level 200, pelatihan media pembelajaran Canva professional, termasuk mengikuti program Calon Guru Penggerak.


b.      Reflektif

Gambar 8. Refleksi pembelajaran
(Dukumen Pribadi)

Mengevaluasi diri, memaknai pengalaman, mencari kekuatan dan kelemahan untuk perbaikan diri. Membuka diri dengan komentar dan kritikan untuk meningkatkan potensi dan kompetensi diri. Refleksi terbaik berasal dari sudut pandang orang lain, dari murid kita sendiri.

  

c.       Kolaboratif


Gambar 9. Kolaborasi merancang perangkat pembelajaran

(Dokumen Pribadi)

Mampu merangkul semua pihak, membangun komunikasi, memahami peran masing-masing dan membangun hubungan kerja yang positif untuk menggapai kepentingan dan tujuan bersama. Berkolaborasi dengan guru senior dalam kegiatan Penilaian Kinerja Guru (PKG), berdiskusi perangkat pembelajaran, saling menilai kekuatan dan kelemahan dalam praktik pembelajaran, sehingga dapat berkolaborasi dalam meningkatkan potensi diri.

 

d.      Inovatif

Gambar 10. Inovasi pembelajaran dengan PhET Simulation
(Dokumen pribadi)

Berani keluar dari kebiasaan. Memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna dalam pembelajaran. Berkarya membawa pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan dengan student centre learning dan sesuai dengan kodrat anak untuk bermain. Berinovasi juga sesuai dengan tuntutan kodrat zaman yang terus berubah, karena perubahan adalah sebuah kepastian.

Dalam pembelajaran, guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan saja, tetapi juga keterampilan dan sikap. Dalam pelajaran IPA, keterampilan praktikum seringkali terkendala dengan ketersediaan alat dan bahan. Agar dapat tetap mengajarkan praktikum meski dalam keterbatasan, maka guru berinovasi menggunakan virtual laboratorium, salah satunya PhET Simulations. Melalui PhET Simulations, murid dapat mempraktikkan bagaimana merangkai rangkaian listrik dengan benar, menyelidiki pengaruh besarnya tegangan terhadap kuat arus dan nyala lampu, dll. Dengan inovasi pembelajaran, keterbatasan alat dan bahan tidak menjadi penghalang dalam pembelajaran.

 

e.       Berpihak pada Murid

Berpikir dari pertanyaan:

“Apakah yang murid butuhkan?”,

“Apakah sudah sesuai dengan karakteristik murid?”

“Apakah yang saya lakukan untuk kepentingan murid?”


Gambar 11. Melayani anak dengan hati

(Dokumen Pribadi)

Sebagai guru harus mengutamakan kepentingan perkembangan murid. Segala peran guru yang dimainkan tertuju pada kepentingan murid. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif yang dilakukan guru sejatinya harus berakar pada Keberpihakan pada kepentingan dan kebutuhan murid. Hal ini sesuai dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara "Menghamba pada anak".

 

E.     Refleksi Aksi Nyata

Secara umum, implementasi peran dan nilai guru pengerak dalam mewujudkan profil pelajar pancasila dapat berjalan dengan lancar. Guru dapat mengimplementasikan perannya dalam 1) memimpin pembelajaran, 2) menggerakkan komunitas, 3) menjadi coach bagi guru lain, 4) Mendorong kolaborasi, dan 5) mewujudkan kepemimpinan peserta didik. Dalam menjalankan peranya, guru penggerak jugamenerapkan nilai-nilai guru penggerak, yaitu: mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada peserta didik.

 

F.     Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Rencana perbaikan di masa mendatang adalah meningkatkan keterampilan dan kompetensi sebagai guru penggerak agar lebih baik lagi dalam menjalankan peran dan nilai-nilai guru penggerak. Dalam peran memimpin pembelajaran, mempelajari lebih banyak pendekatan, model, dan metode pembelajaran agar lebih bervariatif dalam pembelajaran berasaskan kemerdekaan belajar. dalam kolaborasi, lebih banyak merangkul guru dari berbagai mata pelajaran dan memperluas relasi agar lebih banyak yang telibat dalam kolaborasi.

  AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID   JURNAL LITA JURNAL LITERASI dan BERCERITA SEBAGAI PROGRAM MEN...