Sabtu, 19 Februari 2022

 

LAPORAN AKSI NYATA

MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK

 

VISI:

MEWUJUDKAN PELAJAR PANCASILA BERKETERAMPILAN ABAD 21 

MELALUI MERDEKA BELAJAR.

 

PRAKARSA PERUBAHAN:

MENUNTUN ANAK BERNALAR KRITIS DAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN




 

A.    Latar Belakang Masalah

Setiap guru pasti memiliki harapan seperti apa peserta didik yang dihasilkan dari pendidikan. Dalam menjalankan aktifitas mendidikanya, guru harus memiliki tujuan yang jelas terhadap peserta didiknya. Peserta didik adalah generasi masa depan bangsa sehingga guru juga harus berpandangan ke depan akan kebutuhan sikap, pengetahuan,dan keterampilan seperti apa yang dibutuhkan peserta didik pada zamannya. Karena peserta didik akan hidup pada zamannya bukan zaman sekarang. Agar guru dapat lebih terarah setiap langkahnya, lebih jelas tujuan apa yang ingin di capai, maka guru perlu membuat sebuah visi guru.

Menurut Wibisono (2006: 43), visi adalah serangkaian kata-kata yang mengungkapkan impian, cita-cita, rencana, harapan sebuah perkumpulan, perusahaan atau organisasi yang ingin dicapai di masa mendatang. Dalam Modul 1.3 Visi Guru Penggerak disebutkan salah satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Jika guru ibarat seorang pelari, maka visi membantu guru untuk melihat kondisi saat ini sebagai garis “start” dan membayangkan garis “finish” seperti apa yang ingin dicapai.

Melihat kondisi saat ini sebagai “start”, setelah pandemic covid-19 yang memaksa pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau dalam jaringan (daring) ternyata selain berdampak positif terhadap pembelajaran yang semakin kreatif dengan memanfaatkan platform-platform online untuk pembelajaran juga ada sisi kekurangannya terutama dalam pembentukan karakter peserta didik. Karakter dapat terbentuk karena diajarkan,dilatih, dan dijadikan pembiasaan. Sementara selama pandemic, guru kesulitan menyentuh ranah karakter peserta didik karena dibatasi oleh jarak yang menyebabkan guru tidak dapat bertemu langsung dengan peserta didik, serta terbatasnya komunikasi yang dapat dilakukan antara guru dan peserta didik yang hanya melalui zoom, meet, Whatsapp group, dan sebagainya.

Karakter profil pelajar Pancasila sedang menjadi tujuan pendidikan saat ini. Profil pelajar Pancasila dengan enam ciri utama, meliputi: (1) beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, (2) berkebinekaan global, (3) bergotong royong, (4) mandiri, (5) bernalar kritis, dan (6) kreatif. Guru dituntut untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila ini dimiliki oleh setiap peserta didik melalui merdeka belajar.

Di sisi lain, melihat kondisi zaman, peserta didik akan hidup pada zamannya, yaitu zaman abad 21. Pada abad 21 ini, sekolah dituntut untuk mengajarkan peserta didik keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration) atau yang biasa disebut dengan 4C. Keterampilan abad 21 sangat dibutuhkan oleh peserta didik agar dapat berjuang, dan bersaing di era Revolusi Industry 4.0.

Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka guru menentukan:

Visi guru penggerak yaitu:

Mewujudkan Pelajar Pancasila Berketerampilan Abad 21 Melalui Merdeka Belajar

Dengan Prakarsa perubahan yang akan dilakukan pada aksi nyata ini adalah:

Menuntun anak bernalar kritis dan komunikatif dalam pembelajaran

 

B.     Tujuan

Tujuan dari aksi nyata ini adalah:

1.      Membentuk visi guru penggerak yang akan dicapai.

2.      Menerapkan teori BAGJA dalam mewujudkan visi menujudkan pelajar Pancasila berketerampilan abad 21

3.      Melatihkan kepada peserta didik keterampilan abad 21, berpikir kritis (Critical Thinking) dan komunikasi (Communication)

 

C.    Deskripsi Aksi Nyata

1.      Menentukan Visi Guru

Berdasarkan pada permasalahan (sesuai dengan latar belakang aksinya ini) yang ditemukan guru selama pembelajaran jarak jauh (daring) dimana karakter profil pelajar Pancasila belum dapat terolah dengan baik, serta melihat kebutuhan peserta didik yang akan hidup dan bersaing pada zamannya, yaitu abad 21, maka guru menentukan:

Visi guru penggerak yaitu:

Mewujudkan Pelajar Pancasila Berketerampilan Abad 21 Melalui Merdeka Belajar

Dengan Prakarsa perubahan yang akan dilakukan pada aksi nyata ini adalah:

Menuntun anak bernalar kritis dan komunikatif dalam pembelajaran

 

2.      Perencanaan

Dalam penentukan visi guru penggerak, perlu menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif. Inkuiri Apresiatif (IA) dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Jika manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi. Dengan mencari dan mempertahankan kekuatan yang sudah dicapai maka kelemahan dan kekurangan serta ketidakadaan dapat menjadi tidak relevan.

Tahapan utama dalam pendekatan Inkuiri Apresiatif adalah BAGJA. Dalam bahasa Sunda, BAGJA artinya bahagia. Adapun Langkah-langkah BAGJA adalah sebagai berikut:

1.      Buat Pertanyaan Utama. merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan apa yang diinginkan atau diimpikan.

2.      Ambil Pelajaran. mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut.

3.      Gali Mimpi. menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas.

4.      Jabarkan Rencana. merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi.

5.      Atur Eksekusi. Di bagian ini, memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.

 

Deskripsi aksi nyata pada modul 1.3 visi guru penggerak ini dapat dilihat dari tabel BAGJA yang telah disusun sebagai berikut:

VISI:

 Mewujudkan Pelajar Pancasila Berketerampilan Abad 21 Melalui Merdeka Belajar

 

PRAKARSA

PERUBAHAN

Perubahan: Menuntun anak bernalar kritis dan komunikatif dalam pembelajaran

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan

B-uat pertanyaan (Define)

Mengapa anak-anak dengan kemampuan rata-rata cenderung pasif dalam pembelajaran?

Mengapa mereka jarang mengkomunikasikan pendapat atau gagasan mereka?

Bagaimanakah karakter alamiah  (kodrat alam) kepribadian mereka?

Melakukan dialog santai dengan anak-anak untuk menggali karakter alamiah anak (kodrat alam yang dibawa anak sejak lahir dan didikan keluarga).

Melakukan pendekatan dan wawancara pada anak.

 

Membuat angket KPoP “Kenali Potensi Pribadimu”

A-mbil pelajaran (Discover)

Bagaimanakah aset peta kekuatan potensi anak didik?

 

Bagaimana kemampuan guru dan sarana prasarana untuk mengaktifkan bernalar kritis dan komunikatif anak didik?

Menganalisis angket KPoP “Kenali Potensi Pribadimu” untuk menarik garis kesimpulan peta kekuatan anak didik

Berdiskusi dengan Guru BK terkait karakter anak dan cara menumbuhkan berpikir kritis dan komunikatif

Berkolaborasi dengan rekan guru yang sudah dapat mengaktifkan anak-anak dalam pembelajaran.

Membuat forum diskusi guru untuk meningkatkan kompetensi mengaktifkan bernalar kritis dan komunikatif anak

G-ali mimpi (Dream)

Perubahan anak didik seperti apa yang ingin diharapkan?

Pembelajaran seperti apa yang diinginkan?

Membuat target visi perubahan yang diharapkan:

1.      Anak didik yang dapat bernalar kritis terhadap permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Anak didik yang berani mengutarakan pendapat, berani mengkomunikasikan ide, gagasan, dan hasil pemikirannya.

3.      Guru yang dapat menuntun pembelajaran yang aktif, menyenangkan, menuntun anak bernalar kritis terhadap permasalahn, pembelajaran diskusi dan presentasi yang berjalan lancar

4.      Anak didik yang semuanya terlibat aktif dalam pembelajaran tidak hanya didominasi beberapa anak saja.

J-abarkan rencana (Design)

Bagaimana cara menuntun anak dengan kemampuan rata-rata dapat aktif berpikir kritis dan komunikatif dalam pembelajaran?

Membuat perencanaan pembelajaran berbasis PBL (Problem Based Learning) mengangkat permasalah yang dekat dengan kehidupan anak didik.

Pembagian kelompok diskusi yang Heterogen

Menerapkan Kartu keaktifan anak didik dimana setiap anak dituntun untuk aktif bernalar kritis dan berkomunikasi

Melakukan presentasi dengan system Undian dengan aplikasi “Wheel of names” sehingga semua anak didik dituntun untuk siap presentasi dan mendapat kesempatan yang sama.

Berkolaborasi dengan guru lain dalam team teaching agar semua anak mendapatkan perhatian selama pembelajaran.

Pemberian Motivasi akan pentingnya bernalar kritis dan komunikatif serta pemberian reward positif pada anak didik

A-tur eksekusi (Deliver)

Siapa yang terlibat dalam visi perubahan ini?

 

Kapan dilakukan?

 

 

Bagaimana Hasil yang diperoleh?

Melakukan kolaborasi antara CGP, rekan guru, anak didik, BK, dan tentunya Kepala sekolah

Melakukan penjadwalan:

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

Melakukan refleksi pembelajaran akan keaktifan anak dalam bernalar kritis dan komunikatif.

Meminta refleksi dari rekan guru

 

D.    Hasil Aksi Nyata

Melalui pembelajaran berbasis masalah yang diterapkan guru, keterampilan abad 21 yaitu berfikir kritis dan komunikasi dapat dilatihkan kepada peserta didik. Hasilnya adalah:

1.      Melalui kegiatan kelompok,peserta didik dapat berlatih bekerja sama,bergotong royong sebagai salah satu profil pelajar Pancasila.

2.      Melalui kasus permasalahan yang disajikan, peserta didik yang dapat bernalar kritis mengidentifikasi dan mencari solusi terhadap permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

3.      Melalui kegiatan presentasi hasil, peserta didik berani mengutarakan pendapat, berani mengkomunikasikan ide, gagasan, dan hasil pemikirannya.

4.      Guru yang dapat menuntun pembelajaran yang aktif, menyenangkan, menuntun anak bernalar kritis terhadap permasalahn, pembelajaran diskusi dan presentasi yang berjalan lancar

 

 

E.     Refleksi Aksi Nyata

Kegiatan aksi nyata visi guru penggerak, menuntun anak bernalar kritis dan komunikatif dalam pembelajaran secara umum berjalan dengan lancar. Kegiatan kelompok melatih bekerja sama,gotong royong sebagai profil pelajar Pancasila dapat berjalan dengan baik. Sebagian besar peserta didik mampu berpikir kritis dan mengkomunikasikan hasilnya. Namun masih tampak beberapa anak yang masih belum mampu bernalar kritis. Mereka belum dapat menganalisis permasalahkan yang disajikan, belum dapat mengaitkan suatu hal dengan hal lain dalam memecahkan masalah yang diberikan. Selain itu, beberapa anak juga masih belum berani mengkomunikasikan presentasi terkait hasil pekerjaannya di depan kelas.

 

F.     Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Rencana perbaikan mendatang adalah lebih sering melaksanakan pembelajaran yang melatihkan keterampilan abad 21, terutama kemampuan bernalar kritis (Critical thinking) dan berkomunikasi (Comunication). Dengan sering dilatih, diharapkan kemampuan anak semakin meningkat sehingga keterampilan abad 21 dapat dikuasai anak dengan baik.

 

G.    Dokumentasi Kegiatan



Gambar Kegiatan Kerja Kelompok Berpikir Kritis Memecahkan Masalah


Gambar Mempresentasikan Hasil Diskusi Untuk Melatih Komunikasi
 

 


 


Kamis, 17 Februari 2022

 

LAPORAN AKSI NYATA

MODUL 1.4

BUDAYA POSITIF


KOMITMEN KEYAKINAN KELAS SEBAGAI UPAYA MENCIPTAKAN

BUDAYA POSITIF SEKOLAH

 


 

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan karakter peserta didik menjadi aspek “Garapan” utama dalam pendidikan selain pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan karakter biasanya dituangkan dalam peraturan sekolah, tata tertib sekolah dan diimplementasikan dalam pembelajaran. Peraturan dan tata tertib sering diiringi dengan sanksi dan hukuman jika terjadi pelanggaran. Peserta didik yang tidak disiplin waktu, terlambat, seragam tidak lengkap dan sebagainya sering kali mendapatkan sanksi dan hukuman. Sanksi dan hukuman diberikan untuk memberikan efek jera agar peserta didik tidak mengulangi pelanggaran lagi. Akibatnya terjadi keterpaksaan peserta didik untuk mengikuti peraturan dan tata tertib tersebut. Mereka disiplin karena takut terkena sanksi, takut dihukum. Andaikan peraturan dan tata tertib itu ditiadakan, apakah peserta didik masih tetap disiplin?

 Belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman. Hukuman justru adalah salah satu alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali. Tujuan disiplin positif adalah untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.

Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan. Mengubah peraturan kelas/sekolah menjadi keyakinan akan membuat murid lebih menyadari akan keyakinan yang sudah mereka sepakati bersama.

Sekolah perlu menciptakan budaya positif yang dibuat dengan melibatkan murid, menghargai pendapat-pendapat murid, dan disepakati oleh murid.  Nilai dan peran guru penggerak penting untuk membuat, mengawal, dan mewujudkan budaya positif. Nilai dan peran tersebut akan semakin jelas target tujuan dan sasarannya ketika dibentuk sebuah visi budaya positif.  Melalui budaya positif, murid akan lebih termotivasi untuk menjalankan keyakinan-keyakinan yang sudah disepakati serta konsekuensiya. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan konsep peraturan dan hukuman yang selama ini diterapkan di sekolah.

Selama ini untuk menciptakan budaya positif di sekolah masih menerapkan peraturan-peraturan kelas/sekolah beserta dengan sanksi dan hukumannya. Padahal setelah mempelajari modul 1.4 ini, penerapan peraturan hanyalah berdampak jangka pendek karena menekan murid untuk mematuhi pearturan tersebut. Budaya positif akan berdampak jangka panjang ketika dibuat kesepakatan keyakinan yang mendorong murid secara sadar diri untuk melakukan budaya positif tersebut. Oleh karena itu, dibutuhan program “Komitmen Budaya Positif” oleh seluruh murid agar budaya positif dapat disepakati dan dilakukan oleh semua murid.

 

 

B.     Tujuan

Tujuan dari aksi nyata ini adalah:

1.      Kolaborasi antara guru dan siswa untuk membentuk kesepakatan keyakinan kelas.

2.      Membuat pajangan keyakinan kelas

3.      Mendeklarasikan dan menyepakati bersama keyakinan kelas.\

4.      Berkomitmen menjunjung tinggi keyakinan kelas untuk menciptakan budaya positif sekolah.

 

C.    Deskripsi Aksi Nyata

1.      Perencanaan

Pada tahap perencanaan, yang dilakukan adalah:

a.       Membuat link jamboard untuk menampung aspirasi keyakinan kelas tiap peserta didik.

b.      Berkolaborasi membahas aspirasi peserta didik untuk mendapatkan keyakinan kelas yang akan disepakati.

c.       Membuat pajangan kelas berisikan keyakinan kelas

d.      Mendeklarasikan dan menyepakati keyakinan kelas dengan membubuhkan cap telapak tangan tiap peserta didik dan juga guru sebagai wujud komitmen untuk menjunjung tinggi  keyakinan kelas agar terwujud budaya positif sekolah.

2.      Pelaksanaan

Pelaksanaan aksi nyata dilakukan pada pembelajaran tatap muka (PTM). Berdasarkan hasil koordinasi dengan waka kurikulum dipilihlah kelas 7 sebagai kelas yang mendapatkan perlakuan. Waktu pelaksanaan dilakukan pada awal semester genap. Guru berserta peserta didik bercermin dan merefleksikan pengalaman budaya kelas selama semester gasal yang sudah dilakukan. Mengambil kekuatan-kekuatan yang sudah dicapai agar dapat dimaksimalkan lagi dalam sebuah keyakinan kelas. diharapkan dengan keyakinan kelas, budaya positif kelas dapat terwujudkan.

 

D.    Hasil Aksi Nyata

1.      Mengumpulkan Aspirasi Peserta Didik Secara Online Melalui Aplikasi Jamboard

a.      Ketidaknyamanan Selama Semester Gasal

Refleksi pengalaman dari sebuah ketidaknyamanan yang dirasakan selama pembelajaran semester gasal.


Gambar 1. Ketidaknyamanan/Masalah Peserta didik dalam Pembelajaran


b.      Suasana Kelas/Pembelajaran Impian Peserta Didik

Menggali harapan dan impian peserta didik terhadap suasana kelas, interaksi antar teman, interaksi peserta didik dengan guru, pembelajaran, penugasan, dan sebagainya yang ingin diperoleh di semester genap dan seterusnya.


Gambar 2. Suasana Pembelajaran Impian Peserta Didik

 

c.       Keyakinan Kelas Yang Disepakati

Guru mengenalkan apa yang dimaksud keyakinan kelas. Guru berkolaborasi dengan peserta didik membahas keyakianan kelas yang akan disepakati berdasarkan impian dan harapan peserta didik.

Gambar 3. Keyakinan Kelas Peserta Didik

 

2.      Pembuatan Pajangan Keyakinan Kelas

Keyakinan kelas yang sudah disepakati antara peserta didik dan guru kemudian dituliskan dalam lembaran kertas besar untuk dipajang di kelas. Tujuan pemajangan adalah sebagai pengingat untuk memunculkan kesadaran diri, pembiasaan diri, dan menjunjung tinggi keyakinan kelas yang sudah disepakati. Dalam menangani  ketika ada kasus/ kejadian yang tidak diinginkan, pajangan dapat digunakan sebagai salah satu langkah segitiga restitusi yaitu mengingatkan kembali pada keyakinan kelas yang sudah disepakati.


Gambar 3. Pembuatan Pajangan Keyakinan Kelas

 

3.      Deklarasi Keyakinan Kelas

Deklarasi keyakinan kelas dilakukan dengan tujuan untuk menguatkan komitmen bersama guru dan peserta didik terhadap keyakinan kelas yang sudah disepakati. Langkah pertama adalah pembacaan bersama setiap poin keyakinan kelas. Selanjutnya setiap peserta didik diminta untuk membubuhkan cap telapak tangan mereka sebagai wujud persetujuan dan berkomitmen untuk menjunjung keyakinan kelas yang sudah dibuat. Bahkan guru (guru penggerak) juga ikut membubuhkan cap telapak tangannya sebagai tanda guru juga ikut berkomitmen menjaga keyakinan kelas.

Dengan deklarasi keyakinan kelas ini diharapkan kesadaran diri peserta didik sebagai motivasi internal, motivasi tertinggi, dapat terbentuk dalam diri sehingga dengan sadar diri mau menjalankan keyakinan kelas yang sudah disepakati.



 

 

Gambar 4. Deklarasi Keyakinan Kelas

4.      Produk Keyakinan Kelas

 

 

 




Gambar 5. Keyakinan Kelas 7C



E. Respon Peserta Didik

Peserta didik sangat antusias dengan pembentukan Keyakinan Kelas ini. Terlebih mereka dilibatkan dan aktif dalam menentukan merumuskan keyakinan kelas yang akan meraka sepakati bersama. Keyakinan kelas lebih mudah dihafalkan sehingga lebih mudah diingat untuk dilakukan. dengan keyakinan kelas suasana kelas menjadi lebih nyaman untuk belajar karena adanya saling menghargai, bekerja sama, tepat waktu, dan bertanggung jawab. 



F. Respon Guru

Guru mata pelajaran lain berterima kasih karena kelasnya sudah dibuatkan keyakinan kelas. sehingga kesadaran mereka untuk menjalankan keyakinan kelas semakin tinggi. guru lebih mudah mengingatkan dan mengkondisikan kelas karena sudah ada keyakinanan kelas. semoga kedepan keyakinan kelas ini akan benjadi budaya positif bagi sekolah. terima kasih guru penggerak 

G.   Refleksi Aksi Nyata

Pada awalnya, agak kesulitan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik apa itu keyakinan kelas. Hal ini dikarenakan yang dikenal dan dialami peserta didik selama belajar 6 tahun di SD adalah peraturan-peraturan kelas lengkap dengan sanksi dan hukumannya. Namun dengan guru memberikan perumpamaan:

“Mengapa perlu memakai helm saat berkendaraan?”

“Mengapa perlu memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak?”

Jika alasan memakai helm agar tidak ditilang polisi, maka memakai helm masih dianggap sebagai sebuah peraturan saja. Sekedar menghindari polisi, jika tidak ada polisi maka  tidak akan memakai helm. Namun jika memakai helm demi keamanan berkendara, maka keamanan ini adalah sebuah keyakinan. Dengan memahami memakai helm demi keamanan berkendara, maka kesadaran diri untuk memakai helm semakin kuat dan akan terus melakukan memakai helm saat berkendara karena demi keamanan diri.  Begitu juga dengan alasan memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak adalah demi Kesehatan, keselamatan, dan keamanan agar terhindar dari penyakin Covid-19 dan memutus penyebarannya.

            Setelah terbentuk keyakinan kelas dan deklarasi untuk saling berkomitmen menjaga keyakinan kelas, suasanya kelas menjadi lebih nyaman, jika ada yang melanggar keyakinan kelas juga lebih mudah untuk mengingatkan kembali keyakinan kelas apa yang sudah disepakati, sehingga manajemen kelas lebih baik dan pembelajaran lebih kondusif. Hal ini dikarenakan kesadaran peserta didik mulai muncul untuk melaksanakan keyakinan kelas dan budaya positif sudah mulai terwujud.

 

H.  Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Rencana ke depan semoga dapat berkolaborasi dengan semua guru mata pelajaran tentang keyakinan kelas, sehingga tercipta budaya positif kelas dan meluas menjadi budaya positif sekolah sehingga tercipta lingkungan sekolah layaknya taman siswa Ki Hajar Dewantara yang menyenangkan dan mendukung pembentukan pendidikan karakter peserta didik.


Link Youtube Diseminasi Budaya Positif:

https://youtu.be/MDiXzjciJqc

Link Drive Penerapan Keyakinan Kelas Sebagai Upaya mewujudkan Budaya Positif

https://drive.google.com/file/d/1_6cHmaixfGXrlm_MnMss4SdV-7e52Nok/view?usp=sharing


  AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID   JURNAL LITA JURNAL LITERASI dan BERCERITA SEBAGAI PROGRAM MEN...