Jumat, 08 April 2022

LAPORAN
AKSI NYATA MODUL 2.1 dan 2.2

PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

 

PENERAPAN
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DAN SOSIAL-EMOSIONAL
DALAM PELAJARAN IPA SMP


 

A.    Latar Belakang Masalah

Setiap peserta didik adalah pribadi yang unik. Ki Hajar Dewantara dalam filosofi pendidikannya mengibaratkan anak bukanlah lembaran kertas kosong yang dapat dengan bebas dicorat-coret oleh pendidik, tetapi anak bagaikan lembaran kertas yang penuh dengan corat coretan yang dibawa sejak lahir sebagai kodrat alam. Satu kelas heterogen yang terdiri dari 20-32 anak tentunya memiliki karakter dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Setidaknya ada 3 macam kebutuhan belajar peserta didik, yaitu kesiapan belajar (readiness), minat belajar, dan profil belajar peserta didik. Seorang guru sangat perlu untuk memperhatikan kebutuhan belajar anak dan merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar anak agat tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Pembelajaran berdiferensiasi hadir sebagai jawaban pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didik. Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap peserta didik. Melalui pembelajaran berdiferensiasi guru dapat melayani pemenuhan kebutuhan peserta didik, karena pembelajaran berdiferensiasi berakar dari apa kebutuhan belajar, minat, dan profil belajar peserta didik. Menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ peserta didik untuk belajar.

Apa Ciri-Ciri Pembelajaran Berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan peserta didik. 







Selain kebutuhan belajar, keterampilan social dan emosional peserta didik juga perlu diperhatikan guru. Pernahkah melihat peserta didik yang kurang menyadari keperluan dirinya sebagai peserta didik, tidak fokus belajar, hadir di kelas tetapi pikiran memikirkan hal-hal yang lain, saat diskusi tidak bisa berempati atau menghargai teman, tidak bisa bekerja sama dalam kelompok, sulit mengambil keputusan, bahkan tidak bertanggung jawab dengan pilihannya? Peserta didik perlu diajarkan keterampilan bersosial emosional melalui pembelajaran social emosional (PSE) agar lebih memahami kesadaran diri, pengendalian diri, terampil dalam bersosialisasi, mampu bekerja sama/relasi, serta dapat mengambil putusan yang bertanggung jawab.

Pembelajaran social emosional dibutuhkan dalam pembelajaran berdiferensiasi. Bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Mempersiapkan kesadaran diri untuk sepenuhnya hadir baik fisik maupun pikiran pada pembelajaran. Pengelolaan diri untuk mengelola emosi dan fokus pada tujuan yang akan dicapai. Keterampilan social untuk berempati, saling menghargai dalam menyelesaikan tugas. Keterampilan berelasi untuk bekerja sama dan berbagi peran dalam kelompok agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Serta kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dalam berbagai permasalahan yang dihadirkan dalam pembelajaran yang berdiferensiasi.

Dengan penguasaan keterampilan social emosional yang baik serta pembelajaran yang berdiferensiasi, maka murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar). Jika kebutuhan belajar murid terpenuhi, dan keterampilan sosial-emosional dapat dikuasai, maka well being akan tercipta. Menurut kamus Oxford English Dictionary, well-being dapat diartikan sebagai kondisi nyaman, sehat, dan bahagia. Well-being (kesejahteraan hidup) adalah sebuah kondisi individu yang memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya. Menurut Mcgrath & Noble, 2011, murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan (daya lenting/resiliensi) dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab.


B.     Tujuan

Tujuan dari aksi nyata ini adalah:

1.      Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik (kesiapan belajar, minar, dan profil belajar)

2.      Mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi dengan pembelajaran social emosional (PSE) dalam pembelajaran di kelas.

 

C.    Deskripsi Aksi Nyata

1.      Perencanaan

Pada tahap perencanaan, yang dilakukan adalah:

a.       Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran social-emosional.

b.      Berkoordinasi dengan peserta didik terkait jadwal pembelajaran.

c.       Melaksanakan pembelajaran sesuai dengen RPP yang sudah dirancang.

2.      Pelaksanaan

Pelaksanaan aksi nyata dilakukan pada pembelajaran jarak jauh (PJJ).kelas 7 pada mata pelajaran IPA. Waktu pelaksanaan dilakukan sesuai jadwal pelajaran.

 

D.    Hasil Aksi Nyata

1.      RPP pembelajaran Berdiferensiasi dan PSE pada pembelajaran IPA SMP

Pembelajaran   : IPA

Kelas               : 7 SMP

Materi              : Pencemaran Lingkungan

Sub Materi      : Pencemaran Air, tanah, udara

Pembelajaran Berdiferensiasi:

a.      Diferensiasi Konten:

Guru memecah materi agar lebih sederhana menjadi pencemaran air, udara, dan tanah. Memberikan contoh-contoh kasus yang bersifat konkret yang dekat dengan lingkungan kehidupan sehari-hari.

b.      Difrensiasi Proses:

Guru meminta peserta didik untuk berkelompok sesuai dengan minat mereka mau menyelidiki kasus apa, pencemaran air, udara, atau tanah.

Pola pembimbingan kelompok menyesuaiakan kesiapan belajar peserta didik dalam kelompok, perlu bimbingan guru langsung, bantuan teman sebaya, atau mandiri.

c.       Diferensiasi Produk:

Guru mempersilahkan peserta didik menyajikan hasil kerja kelompoknya dalam berbagai bentuk yang mereka inginkan, bisa dalam bentuk presentasi power poin, infografis, laporan tertulis, rekaman video dan sebagainya.

 

Pembelajaran Sosial-Emosional:

Pada Kegiatan Pendahuluan

a.       KSE: Kesadaran Diri - Pengenalan Emosi

Sebelum memulai pelajaran guru meminta peserta didik mengekspresikan perasaannya saat ini melalui room chat:

·         Yang dilakukan guru adalah; guru membuka room chat pada Microsoft Teams.

·         Yang dikatakan kepada murid adalah: tuangkan perasaan yang sedang kamu rasakan saat ini melalui emoji pada room chat.

(KSE Kesadaran diri).

 

b.      KSE: Pengelolaan Diri – Mengelola Emosi dan Fokus untuk Mencapai Tujuan

Agar peserta didik fokus pada pembelajaran, maka guru melakukan kegiatan ICE BREAKING daring dengan share screen “Sebut Warna bukan Tulisannya”.

·         Yang dilakukan guru adalah; guru share screen ppt “Sebut Warna bukan Tulisannya”. mengajak anak mengembalikan Fokus belajar

·         Yang dikatakan kepada murid adalah: Untuk mengembalikan fokus belajar kalian, silahkan sebutkan warna dari ppt yang guru sharescreen, kemudian secara spontan, cepat menyebutkan warna bukan tulisannya

(KSE pengelola emosi dan focus).

 

Pada Kegiatan Inti

c.       KSE: Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Saat melakukan diskusi kelompok: KSE: Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

·         Yang dilakukan guru: menyuruh murid untuk berdiskusi, bermusyawarah mufakat.

·         Yang dikatakan pada murid: bermusyawarahlah dalam diskusi kelompok untuk mengambil keputusan pencemaran apa yang akan dianalisis sampai produk laporannya. Bertanggung jawablah terhadap keputusan yang sudah diambil dengan melaksanakan keputusan kelompok sebaik-baiknya.

 

d.      KSE: Keterampilan Berelasi – Kerja Sama dan Resolusi Konflik

Selama kegiatan berkelompok, KSE: Keterampilan Berelasi – Kerja Sama dan Resolusi Konflik

·         Yang dilakukan guru: meminta semua peserta didik bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugasnya.

·         Yang dikatakan pada murid: Kita harus saling bekerja sama dalam kelompok, silahkan bergotong royong, berbagi peran agar lebih ringan dalam menyelesaikan tugas. Jika terjadi konflik dalam kelompok silahkan diselesaikan dibicarakan dengan baik-baik karena kalian satu kelompok.

 

e.       KSE: Kesadaran Sosial: Keterampilan berempati

(Menghargai orang lain meskipun berbeda pandangan)

Sebelum presentasi dimulai guru menerapkan KSE Kesadaran Sosial: Keterampilan berempati

·         Yang dilakukan guru: meminta semua kelompok mempresentasikan hasil karyanya bergiliran.

·         Yang dikatakan pada murid: Kita sesama teman harus bisa saling Menghargai orang lain meskipun berbeda pandangan. Oleh karena itu ketika ada yang sedang presentasi harap semua memperhatikan, tidak sibuk sendiri, hargai hasil karya teman, dan tidak ada yang bilang buat hasil karya teman jelak, itu tidak baik.

 

Pada Kegiatan Penutup

f.        KSE: Kesadaran Diri - Pengenalan Emosi

Sebelum kegiatan penutup melakukan Teknik STOP, yaitu salah satu teknik mindfulness yang dapat digunakan untuk mengembalikan diri pada kondisi saat ini dengan kesadaran penuh.

·         Yang dilakukan guru: memimpin murid melakukan Teknik STOP

·         Yang dikatakan kepada murid:


Stop/ Berhenti. Hentikan apapun yang sedang kalian lakukan.

Take a deep Breath/ Tarik napas dalam. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas keluar.

Observe/ Amati. Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat Anda lakukan.

Proceed/ Lanjutkan. Latihan selesai. Mari kita lanjutkan kembali kegiatan refleksi dan umpan balik dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap yang lebih positif.

 

RPP Pembelajaran Berdiferensiasi dan Soial Emosional mata pelajaran IPA SMP Materi Pencemaran Lingkungan dapat di download di sini.

 

2.      Pelaksanaan pembelajaran

Pembelajaran berjalan melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau dalam jaringan menggunakan Microsoft Teams. Model pembelajaran berbasis proyek. Untuk pengelompokan dengan bantuan link padlet, jadi peserta didik mengisi kelompok berdasarkan minat peserta didik pada pencemaran air, tanah, atau udara. Setiap kelompok melakukan proyek observasi sederhana terhadap pencemaran di lingkungan masing-masing.

Pembimbingan kelompok dilakukan berdasarkan kebutuhan kelompok masing-masing baik melalui teams ataupun WA grup. Stiap kelompok membuat laporan hasil kegiatan sesuai dengan minat dan kesiapan belajar peserta didik, bisa dalam bentuk laporan word, presentasi power point, video kegiatan, atau vlog. Pembelajaran berjalan dengan lancar dan antusias peserta didik meningkat.

 

E.     Refleksi Aksi Nyata

Pada aksi nyata pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran Sosial-Emosional ini, pada awalnya sedikit mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan diferensiasi dan social emosional dalam RPP. Namun setelah dirancang, ternyata dalam pelaksanaannya menjadi lebih menyenangkan. Hal ini dikarenakan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan pada kebutuhan peserta didik, kesiapan belajar, minat, dan profil belajar peserta didik. Dengan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar, peserta didik dapat lebih semangat, lebih memaksimalkan kinerja belajarnya sehingga tujuan belajar dapat tercapai dengan baik. Selain itu, pembelajaran social-emosional juga sangat mendukung pembelajaran. Melalui PSE, peserta didik menjadi semakin sadar akan posisi dirinya saat ini, hadir sepenuhnya dalam pembelajaran, lebih tenang dan fokus dengan tujuan pembelajaran, dapat berlatih mengambil keputusan sesuai dengan minat nya memilih pencemaran air, tanah, atau udara, dapat bekerja sama, berbagi peran, dan saling menghormati dan berempati bahwa setiap ornag mungkin memiliki pemahaman yang berbeda dengan orang lain, serta .dapat bertanggung jawab dengan keputusannya.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi dan social-emosional, peserta didik terlihat lebih nyaman dalam belajar karena dapat menyesuaikan dengan kesiapan, minat, profil belajarnya. Kemerdekaan belajar juga dapat terwujudkan, sehingga terwujud well-being yang memungkinkan mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi.

F.     Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Rencana ke depan, memperbaiki pola diferensiasi terutama pada sisi diferensiasi proses pembelajaran agar lebih bervariasi lagi. Meningkatkan pembelajaran social emosional (PSE) baik melalui kegiatan yang terintegrasi dalam pembelajaran, kegiatan rutin, atau bahkan budaya positif sekolah sehingga keterampilan social emosional dapat dikuasai oleh peserta didik. Semoga dapat berkolaborasi dengan semua guru mata pelajaran tentang pembelajaran berdiferensiasi dan social emosional, sehingga tercipta lingkungan belajar yang mampu mengundang peserta didik untuk belajar secara merdeka dan nyaman, layaknya taman siswa Ki Hajar Dewantara yang menyenangkan.

 

G.    Dokumentasi Pelaksanaan Pembelajaran

Video Pembelajaran Diferensiasi dan Sosial-Emosional dapat dilihat melalui link berikut:

https://youtu.be/dsgfSru4HMI

 

Gambar Berbagi Perasaan melalui Emoji Chat (Kesadaran Diri-Pengenalan Emosi)

Gambar Diferensiasi Konten

Gambar Diferensiasi Proses: Pengelompokan Berdasar Minat

Gambar Diferensiasi Produk: Berbagai Produk Laporan Sesuai Kesiapan dan Minat


Sumber: Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi
                Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional


Selasa, 05 April 2022

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

COACHING


 

  • Buatlah sebuah kesimpulan dan penjelasan mengenai peran Anda sebagai Penuntun (Sistem Among) atau seorang Coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di Modul 2 yakni Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Emosi dan Sosial. 
  • Buatlah sebuah refleksi dari pemahaman atas keseluruhan materi Modul 2.3 bagaimana keterampilan coaching dapat membantu profesi Anda sebagai guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid.

 

Kata coaching sering di samakan dengan mentor atau konselor. Menyelami makna-makna yang terkandung dalam definisi coaching membawa kita pada pertanyaan, “Apakah coaching bisa diterapkan di dunia pendidikan sehingga bisa mengoptimalkan sumber daya yang ada, baik guru maupun murid?” Apakah guru dapat berperan sebagai coach? Mari kita sama-sama membahas apaitu coaching? bagaimana coaching ini diterapkan dalam konteks sekolah dan bagaimanakah peran guru guru dalam menerapkan keterampilan coaching  sebagai coach?

 

A.      Pengertian Coaching

Coaching merupakan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999).  Coaching menjadi kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya (Whitmore, 2003).

B.      Prinsip coaching:

1.       Proses Kolaborasi

2.       Fokus pada Solusi

3.       Berorientasi hasil

4.       Sistematis

5.       Fasilitator peningkatan performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi coachee.

6.       Membantu coachee untuk belajar bukan mengajari


C.      Tiga Makna Coaching

International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai:

“…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.”

Dari definisi ini, Pramudianto (2020) menyampaikan tiga makna yaitu:

1.   Kemitraan. Hubungan coach dan coachee adalah hubungan kemitraan yang setara. Untuk membantu coachee mencapai tujuannya, seorang coach mendukung secara maksimal tanpa memperlihatkan otoritas yang lebih tinggi dari coachee.

2.   Memberdayakan. Proses inilah yang membedakan coaching dengan proses lainnya. Dalam hal ini, dengan sesi coaching yang ditekankan pada bertanya reflektif dan mendalam, seorang coach dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru.

3.     Optimalisasi. Selain menemukan jawaban sendiri, seorang coach akan berupaya memastikan jawaban yang didapat oleh coachee diterapkan dalam aksi nyata sehingga potensi coachee berkembang.

.

D.      Coaching dan Sistem Among) Ki Hajar Dewantara.

 

Menilik kembali filosofi Ki Hajar Dewantara tentang system Among, bahwa peran utama guru adalah sebagai Pamong, yaitu “Menuntun” anak, maka memahami pendekatan Coaching menjadi selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid).  

 

Among dalam bahasa jawa berarti memberi contoh tentang baik buruk tanpa harus mengambil hak anak agar anak bias tumbuh dan berkembang dalam suasana batin yang merdeka sesuai dengan dasarnya. Sistem among memberikan kesempatan seluas-luasnya pada kemandirian siswa. Peserta didik didorong untuk mengembangkan potensi diri melalui pengalaman, pemahaman, dan upayanya sendiri.

 

E.       Peran Guru Sebagai Seorang Coach Di Sekolah

Apakah Coaching dapat diterapkan di sekolah?

Peran guru sebagai Coaching selaras dengan sistem among Ki Hajar Dewantawa. Coaching bertugas menuntun dan mengarahkan melalui pertanyaan-pertanyaan efektif dan bersifat asertif yang dilakukan kepada peserta didik (coachee). Dalam coaching, diharapakan solusi permasalahan dihasilkan oleh coachee sendiri. Melalui pertanyaan yang diajukan oleh guru selaku coach, peserta didik dapat menentukan apa tujuan yang ingin dicapai, mengidentifikasi permasalahan dan hambatan yang dialami yang selanjutnya diarahkan untuk menemukan apa rencana aksi yang akan dilakukan oleh coachee dan terakhir bagaiamana mengatur tanggung jawab dan komitmen terhadap rencana aksi tersebut sehingga aksi yang dilakukan dapat mendapatkan hasil yang diharapkan. Model ini disebut dengan model TIRTA.

 


 Gambar Model TIRTA

 Coaching sangat berbeda dengan mentor maupun konselor.

 



                                              Gambar perbedaan Coaching-Mentor-Konselor


F.       Refleksi Manfaat Coaching Bagi Guru Dalam Menjalankan Pendidikan Yang Berpihak Pada Peserta Didik.

Coaching dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Seperti kita ketahui bahwa peserta didik adalah pribadi yang unik layaknya kertas penuh coretan dan mereka memiliki sifat dan karekater yang berbeda-beda sebagai kodrat alam yang mereka miliki. Coaching dapat digunakan untuk menemukan kodrat alam yang dimiliki murid, melalui coaching dengan pertanyaan -- pertanyaan yang efektif, guru dapat mengidentifikasi bagaimana karakteristik peserta didik, apa kebutuhan belajar mereka, bagaimana kesiapan belajar, minat, dan profil belajar mereka. Dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik dan karakteristik yang dimilikinya, maka hasil  coaching  ini dapat digunakan sebagai bahan dalam merumuskan pemebelajaran yang berdiferensiasi dan penanaman pembelajaran social-emosional. Pembelajaran menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik, memfasilitasi kesiapan dan minat belajar mereka sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan peserta didik dapat menunjukkan hasil belajar maksimalnya sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik.

 

Sumber:

Modul 2.3 Coaching - Pendidikan Guru Penggerak


Kamis, 24 Maret 2022

 

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan Emosional

 


Sebagai seorang guru/pendidik, pernahkah anda merasakan saat Anda melakukan pembelajaran di kelas tetapi pikiran Anda memikirkan hal-hal lain di luar pembelajaran? Seperti memikirkan proposal kegiatan murid, rapat dengan dewan guru, laporan keuangan, masalah keluarga dan lain sebagainya? Apa yang Anda rasakan saat dalam kondisi tersebut?

Mungkin Anda akan merasa tertekan dengan pikiran yang begitu banyak, gagal fokus, bahkan bisa jadi stress. Kemudian, sadarkah Anda? Bahwa kondisi tersebut dapat mempengaruhi sikap social dan emosional Anda sebagai  guru sehingga berdampak pada sikap Tindakan Anda saat pembelajaran, mudah marah, mudah menyalahkan, bahkan salah dalam mengambil keputusan.

Gambar 1. Roda Emosi

Tidak dapat dipungkiri bahwa tugas seorang guru tidak hanya kegiatan belajar mengajar saja, tetapi juga dapat ditunjuk untuk mengurusi berbagai hal dan juga berbagai jabatan, seperti kurikulum, keuangan, kegiatan kesiswaan, kegiatan keagamaan, hari besar, kegiatan kedinasan, dan berbagai keperluan sekolah lainnya. Sering kali tugas-tugas datang dalam waktu yang bersamaan sehingga guru menjadi kehilangan konsentrasi, dan tertekan dengan berbagai pikiran yang harus diselesaikan.

Selain guru, murid-murid pun dapat mengalami situasi yang sama. selain mendapat tugas-tugas akademik dan non akademik , mereka juga dihadapkan dengan pertumbuhan dan perkembangan diri, hubungan pertemanan, keluarga, mempersiapkan masa depan yang akan dicapai dan sebagainya.

 Untuk menghadapi berbagai situasi dan tantangan yang kompleks ini, baik pendidik maupun murid membutuhkan berbagai bekal pengetahuan, sikap dan keterampilan agar dapat mengelola kehidupan personal maupun sosialnya.  Pembelajaran di sekolah harus dapat mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, baik aspek kognitif, fisik,  sosial dan emosional. Perlunya mengembangkan potensi diridan juga membekali diri dengan kompetensi social-emosional dalam menghadapi berbagai kondisi. Dengan keterampilan social-emosional kita dapat menghadirkan kesadaran diri, pengendalian diri, kesadaran social, keterampilan membangun relasi, dan juga mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Kompetensi Sosial-Emosional


Gambar 2. Kompetensi Sosial Emosioanal CASEL

Mengacu pada kerangka CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning) (www.casel.org), Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

 Pembelajaran sosial dan emosional menurut kerangka CASEL bertujuan untuk mengembangkan 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE), di antaranya adalah:

1.       memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri)

2.       menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)

3.       merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)

4.       membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi)

5.       membuat keputusan yang bertanggung jawab.  (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

 

Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE)  dapat dilakukan dengan 4 cara:

1.       Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE)  secara spesifik dan eksplisit

2.       Mengintegrasikan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid

3.       Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid

4.       Mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain dan lingkungan.

 

Pembelajaran Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh yang dilakukan secara terhubung, terkoordinasi, aktif, fokus, dan eksplisit diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan hidup (Well-being) ekosistem sekolah. Menurut kamus Oxford English Dictionary, well-being dapat diartikan sebagai kondisi nyaman, sehat, dan bahagia. Well-being (kesejahteraan hidup)  adalah sebuah kondisi individu yang memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya. Menurut Mcgrath & Noble, 2011, murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan (daya lenting/resiliensi) dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab.

 Menurut Hawkins (2017), latihan berkesadaran penuh (mindfulness) dapat membangun keterhubungan diri sendiri (self-awareness) dengan berbagai kompetensi emosi dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, sebelum memberikan respon dalam sebuah situasi sosial yang menantang, kita berhenti, bernapas dengan sadar, mengamati pikiran, perasaan diri sendiri maupun orang lain, mengelola emosi yang muncul, hingga dapat membuat pilihan/mengambil keputusan yang lebih responsif, bukan reaktif.

 Pada saat menghadapi kondisi menantang, misalnya pada saat seorang guru berhadapan dengan perilaku murid yang dinilai tidak disiplin, mekanisme kerja otak akan mengarahkan diri untuk berhenti, menarik napas panjang, memberikan waktu untuk memahami apa yang dirasakan diri sendiri, apa nilai-nilai diri yang diyakini,  memunculkan empati untuk memahami situasi yang terjadi, mencari tahu apa yang dirasakan oleh murid dengan hadir secara penuh.  Guru akan memilih untuk bertanya pada murid tersebut untuk memahami apa yang terjadi. Respon guru yang berkesadaran penuh akan dapat membangun koneksi dan rasa percaya murid pada guru. Koneksi, rasa aman dan rasa percaya di antara guru dan murid akan memperkuat relasi murid dan guru sehingga dapat menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang kondusif bagi pembelajaran. Relasi yang terbangun antara guru dan murid akan mendorong guru untuk membuat keputusan yang lebih responsif.Di sisi lain, lingkungan belajar dan suasana belajar yang kondusif akan membantu tumbuhnya kesadaran diri murid tentang perasaan, kekuatan, kelemahan, nilai-nilai yang dimiliki dengan lebih baik. Tumbuhnya kesadaran sosial yang lebih baik yang didasarkan pada perhatian yang bertujuan juga akan membantu murid dalam memproses informasi secara lebih baik.  Jika murid dapat mengikuti proses pembelajaran secara lebih baik, maka secara perlahan tumbuh optimisme dan tingkat efikasi dalam dirinya.

 

Koneksi Antar materi Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Gambar 3. Koneksi Pembelajaran Berdiferensiasi dan PSE

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap peserta didik. Melalui pembelajaran berdiferensiasi guru dapat melayani pemenuhan kebutuhan peserta didik, karena pembelajaran berdiferensiasi berakar dari apa kebutuhan belajar, minat, dan profil belajar peserta didik. Menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ peserta didik untuk belajar.

Pembelajaran social emosional dibutuhkan dalam pembelajaran berdiferensiasi. Bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Mempersiapkan kesadaran diri untuk sepenuhnya hadir baik fisik maupun pikiran pada pembelajaran. Pengelolaan diri untuk mengelola emosi dan fokus pada tujuan yang akan dicapai. Keterampilan social untuk berempati, saling menghargai dalam menyelesaikan tugas. Keterampilan berelasi untuk bekerja sama dan berbagi peran dalam kelompok agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Serta kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dalam berbagai permasalahan yang dihadirkan dalam pembelajaran yang berdiferensiasi.

Dengan penguasaan keterampilan social emosional yang baik serta pembelajaran yang berdiferensiasi, maka murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar. Jika kebutuhan belajar murid terpenuhi, dan keterampilan sosial-emosional dapat dikuasai, maka well being akan tercipta.

Sumber: 

Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi (Pendidikan Guru Penggerak)

Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional (Pendidikan Guru Penggerak)

 

 



Senin, 28 Februari 2022

2.1.a.9 Koneksi antar materi Modul 2.1

Merdeka Belajar Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh:
Muhammad Taufiq
CGP 04 Kab.Magelang

Merdeka belajar adalah sebuah program yang akhir-akhir ini sedang di angkat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Pembelajaran yang memerdekakan peserta didik, artinya pembelajaran yang bebas sesuai dengan bakat, minat dan profil peserta didik. Hal ini sesuai dengan filosofi Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, tentang pendidikan yaitu “Menghamba pada Anak”. Menurut Ki Hajar Dewantara, anak diibaratkan seperti benih tanaman, setiap benih sudah memiliki karakter masing-masing. Begitu juga dengan peserta didik, mereka merupakan pribadi-pribadi yang unik, yang memiliki karakter yang dibawa sebagai kodrat alam dan kebutuhan yang berbeda-beda.

 

Pendidikan merupakan usaha sadar menuntun anak untuk mencapai kebahagiaan. Pendidikan harus berusaha menyesuaikan dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan belajar peserta didiknya, mengikuti minat dan bakat peserta didik, serta mempertimbangkan bagaimana profil belajar mereka agar mereka bahagia selama belajar. Konsep merdeka belajar tentunya membutuhkan inovasi-inovasi pembelajaran yang dilakukan guru agar proses pembelajaran yang dikemas dapat mempertimbangkan karakteristik peserta didik dan benar-benar memenuhi kebutuhan belajar peserta didik. Salah satu inovasi pembelajaran yang berupaya memenuhi kebutuhan peserta didik sebagai pribadi-pribadi yang unik, mengedepankan merdeka belajar dan menghamba kepada peserta didik adalah Pembelajaran Berdiferensiasi.

 

Apa itu Pembelajaran Berdiferensiasi?

Coba tutup mata Anda dan ingatlah satu persatu peserta didik di kelas Anda. Bagaimanakah karakteristik setiap anak di kelas Anda? Bagaimana gaya belajar mereka? Apa minat mereka? Siapakah yang tertarik saat menghitung? Siapa yang senang menulis? Atau siapa yang justru senang berbicara? Siapakah yang paling menyukai kegiatan kelompok? Siapakah yang justru selalu menghindar saat bekerja kelompok?

Apakah kebutuhan belajar mereka sama? Bagaimana pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan mereka?

 

Ki Hajar Dewantara, dalam filosofinya mengibaratkan guru layaknya petani yang menanam dan merawat biji tanaman. Sebagai petani tentunya harus terlebih dahulu mengetahui dan mempelajari bagaimana karakter biji yang akan ditanamnya. Cara merawat, mengairi, memupuk biji tanaman padi tentu berbeda dengan biji tanaman jagung. Ketika petani tahu apa yang dibutuhkan biji untuk tumbuh dengan baik dan melakukannya, pasti akan mendapatkan hasil yang diharapkan. Begitupun guru, ketika guru mengetahui apa kebutuhan peserta didiknya sehingga guru dapat mengajar sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya, maka tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik dan peserta didik pun akan Bahagia.

 

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap peserta didik. Melalui pembelajaran berdiferensiasi guru dapat melayani pemenuhan kebutuhan peserta didik, karena pembelajaran berdiferensiasi berakar dari apa kebutuhan belajar, minat, dan profil belajar peserta didik. Menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ peserta didik untuk belajar.

 

Ciri-Ciri Pembelajaran Berdiferensiasi?

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan peserta didik. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

·         Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga peserta didiknya.

·         Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar peserta didiknya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

·         Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ peserta didik untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap peserta didik di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

·         Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

·         Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan peserta didik mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, peserta didik mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

 

Apa Saja Kebutuhan Belajar Peserta Didik?

Setidaknya ada 3 kategori kebutuhan belajar peserta didik:

a.       Kesiapan belajar (readiness) peserta didik

kesiapan belajar peserta didik bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki peserta didik saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan. Kesiapan belajar berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan apa yang dimiliki peserta didik sebelumnya. Kesiapan belajar dapat diperoleh dengan cara guru terlebih dahuu bertanya jawab berkaitan dengan materi yang sudah dipelajari peserta didik, pengalaman-pengalaman belajar peserta didik yang dapat dibutuhkan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Bisa juga dengan membuat kuis sebagai pemetaan awal (pra syarat) kesiapan peserta didik. Guru melakukan analisis diagnostic sebelum membuat perencanaan pembelajaran.

b.      Minat peserta didik

Minat berkaitan dengan ketertarikan, hasrat, kesenangan peserta didik yang memicu rasa keingintahuan yang tinggi terhadap pembelajaran.

c.       Profil belajar peserta didik

Profil belajar berkaitan dengan gaya belajar peserta didik yang sering dibagi menjadi 3 gaya belajar, yaitu: Auditori (suara), visual (gambar), dan kinestetik (olah tangan).

 

Peserta didik akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar),  jika tugas-tugas yang memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang peserta didik (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).

 

Bagaimana Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas?

Andai seorang guru mengajar sejumlah 30 peserta didik di sebuah kelas. Tentunya dengan kebutuhan belajar yang berbeda-beda, kesiapan belajar yang beragam, minat yang bermacam-macam, belum lagi profil belajar yang bervariasi. Lantas bagaimana guru harus mengajar?

 

Apakah berarti guru tersebut harus mengajar dengan 30 cara yang berbeda? memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak? memperbanyak jumlah soal untuk peserta didik yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain?  Jika begitu, pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan.

 

Pembelajaran Berdiferensiasi bukanlah pembelajaran yang semrawut, tetapi serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan peserta didik. Tomlinson (2001: 46) mengatakan bahwa merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan kombinasi suara terbaik biasanya Anda akan menggeser-geser tombol equalizer tersebut terlebih dahulu. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk berbagai kebutuhan peserta didik.



Strategi pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan melalui 3 cara:

1.      Diferensiasi konten

Konten adalah apa yang guru ajarkan kepada peserta didik. Diferensiasi konten berkaitan dengan apakah materi yang diajarkan bersifat mendasar atau transformatif. Disajikan dalam bentuk konkret atau abstrak. Dimuat secara sederhana atau kompleks.

2.      Diferensiasi proses

Proses berkaitan dengan bagaimana pesertaa didik akan memahami dan memaknai informasi yang dipelajari. Diferensiasi proses pembelajaran dapat dilakukan dalam berbagai hal, seperti:

Apakah peserta didik akan belajar secara mandiri atau berkelompok.

Apakah kegiatan pembelajaran disusun secara terstruktur atau bersifat terbuka.

Apakah proses belajar lebih banyak bergantung kepada guru atau peserta didik dapat bekerja mandiri tanpa bimbingan.

Beberapa cara diferensiasi proses:

1.      Kegiatan berjenjang sesuai kesiapan peserta didik,

2.      Pengelompokan fleksibel, sehingga dapat dilakukan pengelompokan sesuai minat,

3.      Membuat agenda individual: daftar pekerjaan umum dan individual,

4.      Variasi lama waktu,

5.      Kegiatan bervariasi beragam gaya belajar.

 

3.      Diferensiasi produk

Produk berkaitan dengan keluaran apa yang dihasilkan peserta didik selama pembelajaran. Diferensiasi produk dapat dilakukan dengan cara membebaskan peserta didik mengekspresikan bentuk hasil belajarnya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajarnya. Guru mempertimbangkan kualitas pekerjaan seperti apa, konten apa, bagaimana mengerjakannya, dan apa sifat produk akhirnya.

 

Bagaimana Contoh Penerapan di kelas?

Pembelajaran IPA SMP Kelas 7 materi Pencemaran Lingkungan

Diferensiasi Konten:

Guru memecah materi agar lebih sederhana menjadi pencemaran air, udara, dan tanah. Memberikan contoh-contoh kasus yang bersifat konkret yang dekat dengan lingkungan kehidupan sehari-hari.

 

Difrensiasi Proses:

Guru mengelompokkan peserta didik sesuai dengan minat mereka mau menyelidiki kasus pencemaran air, udara, atau tanah.

Pola pembimbingan kelompok menyesuaiakan kesiapan belajar peserta didik dalam kelompok, perlu bimbingan guru langsung, bantuan teman sebaya, atau mandiri.

 

Diferensiasi Produk:

Guru mempersilahkan peserta didik menyajikan hasil kerja kelompoknya dalam berbagai bentuk yang mereka inginkan, bisa dalam bentuk presentasi power poin, infografis, laporan tertulis, rekaman video dan sebagainya.

 

Melalui pembelajaran diferensiasi, guru dapat mengemas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik: kesiapan belajar, minat, dan profil belajar peserta didik. Dengan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, maka motivasi, emosional, dan keingintahuan peserta didik lebih kuat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Kemerdekaan belajar juga terwujudkan selama proses pembelajaran. Pembelajaran “menghamba” pada anak, Dan yang utama adalah pembelajaran berpihak pada peserta didik dan untuk peserta didik.  Tujuan pembelajaran untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan peserta didik dapat terwujudkan.

 

Sumber: Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Peserta didik melalui Pembelajaran Berdiferensiasi (Pendidikan Guru Penggerak- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

  AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID   JURNAL LITA JURNAL LITERASI dan BERCERITA SEBAGAI PROGRAM MEN...