Kamis, 10 Februari 2022

 

LAPORAN AKSI NYATA

MODUL 1.2

PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK


IMPLEMENTASI PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK

DALAM MEWUJUDKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA


A.    Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional yang sudah dirumuskan berdasarkan Pancasila dan undang-undang dasar 1945. Tujuan pendidikan nasional dalam pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Peran guru sangatlah penting dalam menujudkan tujuan pendidikan nasional. Salah satu tujuan pendidikan yang sedang diangkat saat ini adalah profil pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila adalah Pelajar Pancasila adalah pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024.

Tujuan pendidikan nasional dan profil pelajar Pancasila tidak akan terwujud tanpa keberadaan guru yang menjalankan peran dan nilai-nilai dalam mendidik generasi penerus bangsa. Melalui program guru penggerak, pemerintah lebih menanamkan akan peran serta nilai-nilai guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila. Terdapat 5 butir peran dan nilai dari seorang Guru Penggerak (Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak) yaitu sebagai berikut:

Gambar 1. Peran dan Nilai Guru Penggerak

(Dokumen pribadi)


1.      Menjadi Pemimpin Pembelajaran

Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong wellbeing ekosistem pendidikan sekolah. Mari kita lihat terlebih dahulu kata pemimpin pembelajaran. Pemimpin Pembelajaran berarti seorang Guru Penggerak menjadi seorang pemimpin yang menitikberatkan pada komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, seperti kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, pengembangan guru serta komunitas sekolah, dll. Pemimpin pembelajaran yang mendorong wellbeing berpihak pada murid. Jadi seorang Guru Penggerak diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada murid, dengan mendukung tumbuh-kembang murid.

 

2.      Menggerakkan Komunitas Praktisi

Menggerakkan komunitas praktik untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. Seorang Guru Penggerak berpartisipasi aktif dalam membuat komunitas belajar untuk para rekan guru baik di sekolah maupun wilayahnya.

 

3.      Menjadi Coach Bagi Guru Lain

Menjadi coach dan mentor bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah. Seorang Guru Penggerak juga harus mampu mengembangkan poteni rekan sejawatnya, terutama peningkatan untuk pembelajaran. Guru Penggerak diharapkan juga bisa memantau perkembangan dari rekan guru lain tersebut.

 

4.      Mendorong Kolaborasi Antar Guru

Membuka ruang diskusi positif dan kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan di luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pada peran ini, seorang Guru Penggerak diharapkan mampu memetakan para pemangku kepentingan di sekolah (serta luar sekolah), serta membangun dialog antar para pemangku kepentingan tersebut.


5.      Mewujudkan Kepemimpinan Murid

Mendorong peningkatan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Peran seorang Guru Penggerak berarti membantu para murid ini untuk mandiri dalam belajar, mampu memunculkan motivasi murid untuk belajar, juga mendidik karakter murid di sekolah.


        Dalam menjalankan peran guru penggerak, seorang guru juga harus memiliki nilai-nilai guru penggerak. Nilai menurut Rokeach (dalam Hari, Abdul H. 2015), merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Lima nilai dari Guru Penggerak adalah: 

        Mandiri, 

        Reflektif, 

        Kolaboratif, 

        Inovatif, serta 

        Berpihak pada Murid


    Melalui aksi nyata berjudul “Implementasi Peran dan Nilai Guru Penggerak Dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila”, saya sebagai calon guru penggerak Angkatan 4 Kabupaten Magelang mencoba untuk mengimplementasikan peran dan nilai guru penggerak dalam kegiatan di sekolah. Melalui implementasi peran dan nilai guru penggerak ini diharapakan dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila sebagai visi yang akan dicapai.




B.     Tujuan

        Tujuan dari aksi nyata ini adalah:

1.      Menerapkan peran guru penggerak dalam pembelajaran di sekolah untuk membangun profil pelajar pancasila

2.      Menerapkan nilai guru penggerak dalam pembelajaran di sekolah untuk membangun profil pelajar pancasila

C.    Deskripsi Aksi Nyata

1.      Perencanaan

Pada tahap perencanaan, yang dilakukan adalah:

a.       Merancang kegiatan-kegiatan yang mencerminkan peran guru penggerak, meliputi:                                 1) Memimpin pembelajaran

2) Menggerakkan Komunitas Praktisi

3) Menjadi coach bagi guru lain

4) mendorong kolaborasi antar guru

5) Mewujudkan kepemimpinan murid

b.      Menerapkan nilai-nilai guru penggerak, yang meliputi mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, berpihak pada murid dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak.

c.       Mendokumentasikan setiap kegiatan peran dan nilai guru penggerak


2.      Pelaksanaan

Pelaksanaan aksi nyata implementasi peran dan nilai guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar pancasila ini dilakukan selama kegiatan di SMP Muhammadiyah Tanjung Muntilan Tahun pelajaran 2021/2022. 

 

D.    Hasil Aksi Nyata

1.      Peran Guru Penggerak

a)      Memimpin Pembelajaran

Gambar 2. Guru memimpin pembelajaran berbasis PhET Simulation
(Dokumen Pribadi)

Peran utama guru adalah memimpin pembelajaran. Melalui kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran guru memimpin pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tersampaikan dan peserta didik dapat menguasai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Peran memimpin pembelajaran dilaksanakan setiap hari sesuai dengan jadwal pelajaran. Guru mengemas pembelajaran yang menarik sesuai kodrat anak, mengedepankan kemerdekaan belajar demi mewujudkan profil pelajar Pancasila.

 

b)     Menggerakkan Komunitas Praktisi


Gambar 3. Menggerakkan Guru untuk meningkatkan pelayanan kepada peserta didik

(Dokumen Pribadi)


Dalam menggerakkan komunitas praktis, sebagai guru penggerak selaku wakil kepala sekolah urusan kurikulum menggerakkan para guru dalam pembuatan perangkat pembelajaran, seperti RPP dan penilaian. Selain itu juga aktif dalam memberikan informasi dan mengajak para guru untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan dan webinar baik yang diselenggarakan dinas pendidikan maupun pihak lain. Dengan mengikuti kegiatan pelatihan dan webinar diharapkan para guru dapat mengembangkan potensi diri dan wawasan yang berguna untuk pembelajaran di sekolah dan memajukan peserta didik.

 

c)      Menjadi Coach Bagi Guru Lain

Gambar 4. Menjadi coach bagi guru baru dalam praktikum IPA
(Dokumen Pribadi)

Dalam menjalankan peran sebagai coach bagi guru lain kali ini, guru penggerak melatih, membimbing guru baru dalam kegiatan praktikum IPA di kelas. Sebagai guru baru, sering bermasalah dengan manajemen kelas sehingga peserta didik asyik bermain sendiri, suasana kelas ramai, dan tujuan pembelajaran menjadi kurang tersampaikan dengan baik.

Guru penggerak mengajarkan bagaimana memanajemen peserta didik agar dapat kondusif dalam kegiatan praktikum secara berkelompok, bagaimana menjelaskan cara kerja praktikum, dan membimbing kelompok selama praktikum. Melalui peran coach ini, guru baru mendapatkan pengalaman memanajemen kelas dengan baik sehingga peserta didik dapat belajar secara kondusif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

 

d)     Mendorong Kolaborasi Antar Guru


Gambar 5. Kolaborasi dengan wali kelas dan waka kesiswaan 

(Dokumen Pribadi)

Berkolaborasi dengan guru selaku wali kelas dan wakil kepala urusan kesiswaan berkaitan dengan pembinaan peserta didik menjelang kegiatan PTM 100% terkait konsep pembelajaran yang akan dijalankan, aturan protocol kesehatan yang akan diterapkan, serta peran serta dukungan seperti apa dari orang tua/wali peserta didik agar PTM 100% dapat berjalan dengan lancar dan aman.

 

e)      Mewujudkan Kepemimpinan Peserta didik


Gambar 6. Mewujudkan kepemimpinan peserta didik dalam kerja kelompok dan presentasi 

(Dokumen Pribadi)


 

Melalui kegiatan berkelompok dan presentasi hasil kerja kelompok, guru mencoba mewujudkan jiwa kepemimpinan peserta didik. Dalam kerja kelompok ditunjuk ketua kelompok, diperlukan pembagian tugas agar tugas dapat terselesaikan dengan baik dan semua terlibat berkontribusi dalam kerja kelompok. Dalam presentasi hasil kerja, diperlukan keberanian,kepercayaan diri, dan juga pembagian tugas penyampaian hasil pekerjaan. Melalui kegiatan kerja kelompok dan presentasi dapat diwujudkan kepemimpinan peserta didik dalam belajar.

   

2.      Nilai-Nilai Guru Penggerak

a.      Mandiri

Gambar 7. Mengikuti Pendidikan Guru Penggerak
(Dokumen pribadi
)


Belajar sepanjang hayat menjadi semangat untuk terus mengembangkan potensi diri. Tersadar oleh kebutuhan diri sendiri dan terdorong oleh kemauan diri sendiri. Mandiri, tanpa menunggu ditunjuk ataupun diperintahkan oleh orang lain. Sebagai guru penggerak, sering mengikuti kegiatan pelatihan, webinar secara mandiri. Beberapa pelatihan yang diikuti adalah pelatihan pengelolaan laboratorium SMP, pelatihan Microsoft 365 level 200, pelatihan media pembelajaran Canva professional, termasuk mengikuti program Calon Guru Penggerak.


b.      Reflektif

Gambar 8. Refleksi pembelajaran
(Dukumen Pribadi)

Mengevaluasi diri, memaknai pengalaman, mencari kekuatan dan kelemahan untuk perbaikan diri. Membuka diri dengan komentar dan kritikan untuk meningkatkan potensi dan kompetensi diri. Refleksi terbaik berasal dari sudut pandang orang lain, dari murid kita sendiri.

  

c.       Kolaboratif


Gambar 9. Kolaborasi merancang perangkat pembelajaran

(Dokumen Pribadi)

Mampu merangkul semua pihak, membangun komunikasi, memahami peran masing-masing dan membangun hubungan kerja yang positif untuk menggapai kepentingan dan tujuan bersama. Berkolaborasi dengan guru senior dalam kegiatan Penilaian Kinerja Guru (PKG), berdiskusi perangkat pembelajaran, saling menilai kekuatan dan kelemahan dalam praktik pembelajaran, sehingga dapat berkolaborasi dalam meningkatkan potensi diri.

 

d.      Inovatif

Gambar 10. Inovasi pembelajaran dengan PhET Simulation
(Dokumen pribadi)

Berani keluar dari kebiasaan. Memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna dalam pembelajaran. Berkarya membawa pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan dengan student centre learning dan sesuai dengan kodrat anak untuk bermain. Berinovasi juga sesuai dengan tuntutan kodrat zaman yang terus berubah, karena perubahan adalah sebuah kepastian.

Dalam pembelajaran, guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan saja, tetapi juga keterampilan dan sikap. Dalam pelajaran IPA, keterampilan praktikum seringkali terkendala dengan ketersediaan alat dan bahan. Agar dapat tetap mengajarkan praktikum meski dalam keterbatasan, maka guru berinovasi menggunakan virtual laboratorium, salah satunya PhET Simulations. Melalui PhET Simulations, murid dapat mempraktikkan bagaimana merangkai rangkaian listrik dengan benar, menyelidiki pengaruh besarnya tegangan terhadap kuat arus dan nyala lampu, dll. Dengan inovasi pembelajaran, keterbatasan alat dan bahan tidak menjadi penghalang dalam pembelajaran.

 

e.       Berpihak pada Murid

Berpikir dari pertanyaan:

“Apakah yang murid butuhkan?”,

“Apakah sudah sesuai dengan karakteristik murid?”

“Apakah yang saya lakukan untuk kepentingan murid?”


Gambar 11. Melayani anak dengan hati

(Dokumen Pribadi)

Sebagai guru harus mengutamakan kepentingan perkembangan murid. Segala peran guru yang dimainkan tertuju pada kepentingan murid. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif yang dilakukan guru sejatinya harus berakar pada Keberpihakan pada kepentingan dan kebutuhan murid. Hal ini sesuai dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara "Menghamba pada anak".

 

E.     Refleksi Aksi Nyata

Secara umum, implementasi peran dan nilai guru pengerak dalam mewujudkan profil pelajar pancasila dapat berjalan dengan lancar. Guru dapat mengimplementasikan perannya dalam 1) memimpin pembelajaran, 2) menggerakkan komunitas, 3) menjadi coach bagi guru lain, 4) Mendorong kolaborasi, dan 5) mewujudkan kepemimpinan peserta didik. Dalam menjalankan peranya, guru penggerak jugamenerapkan nilai-nilai guru penggerak, yaitu: mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada peserta didik.

 

F.     Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Rencana perbaikan di masa mendatang adalah meningkatkan keterampilan dan kompetensi sebagai guru penggerak agar lebih baik lagi dalam menjalankan peran dan nilai-nilai guru penggerak. Dalam peran memimpin pembelajaran, mempelajari lebih banyak pendekatan, model, dan metode pembelajaran agar lebih bervariatif dalam pembelajaran berasaskan kemerdekaan belajar. dalam kolaborasi, lebih banyak merangkul guru dari berbagai mata pelajaran dan memperluas relasi agar lebih banyak yang telibat dalam kolaborasi.

Jumat, 31 Desember 2021

Aksi Nyata Modul 1.1 Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

 

LAPORAN AKSI NYATA

MODUL 1.1 FILOSOFI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA

 

GAMIFIKASI IPA SEBAGAI UPAYA PEMBELAJARAN MENYENANGKAN SESUAI KODRAT ALAM ANAK

 



A.    Latar Belakang Masalah

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan sebuah ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’. Mendidik berarti menuntun, yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kodrat disini adalah kodrat alami yang dibawa anak sejak lahir dan juga kodrat zaman dimana anak nantinya akan hidup pada zamannya (bukan zaman gurunya). Sedangkan pengajaran adalah cara memberi ilmu atau berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin. Jadi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah upaya untuk menuntun (bukan menuntut) anak sesuai dengan kodrat yang dimiliki oleh anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan memuat hal-hal sebagai berikut:

1.      Pendidikan adalah upaya untuk menuntuk anak mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

2.      Pendidikan haruslah berpihak pada anak, artinya dalam menuntun haruslah mempertimbangkan kodrat alam anak seperti fisik, pengetahuan, keterampilan yang disudah dimiliki anak dan kodrat zaman yaitu menyesuaikan dengan kondisi zaman dimana anak akan hidup. Tujuan pendidikan adalah untuk anak, anak, dan anak.

3.      Guru ibarat petani, sedangkan anak ibarat benihnya. Benih padi akan tumbuh menjadi tanaman padi, benih jagung tumbuh menjadi jagung. Tidak mungkin benih padi akan tumbuh menjadi jagung begitu juga sebaliknya. Artinya anak sebagai benih sudah memiliki kodrat alam masing-masing dengan potensi yang dibawanya sejah lahir. Lantas tugas guru apa? Tugas guru adalah ibarat petani. Petani bertugas menanam, merawat, menyirami, memupuk agar benih-benih tersebut tumbuh maksimal sesuai dengan kodratnya.

4.      Anak bukanlah seperti kertas kosong yang dapat dicorat-coret oleh guru seenaknya. Anak diibaratkan kertas yang sudah penuh dengan coret-coretan. Ada coretan yang baik ada juga yang buruk, ada tulisan berani ada juga malu, ada jujur ada bohong, ada rajin ada juga malas. Tugas guru adalah berusaha menebalkan potensi-potensi tulisan yang baik agar semakin tebal sampai muncul dipermukaan dan mengaburkan tulisan-tulisan yang buruk.

5.      Pendidik adalah memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup anak. Artinya Pendidikan mengolah budi pekerti anak. Budi pekerti sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Budi pekerti, watak, atau karakter merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga.

6.      Kodrat anak adalah bermain. Pendidikan yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara adalah yang mengajak bermain anak, dalam permainan tersebut dapat mengolah panca indra, olah rasa, bahkan olah pikir. Dan perlu disadari oleh guru bahwa bermain adalah sebuah keseriusan bagi anak.

7.      Dalam proses ‘menuntun’, anak diberi kebebasan/kemerdekaan sedangkan pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

Pada faktanya di sekolah, filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan di atas masih belum banyak diterapkan oleh guru. Buktinya antara lain pembelajaran yang seharusnya anak sebagai pusat belajar (student centre) masih belum banyak dilakukan, masih berpusat pada guru (teacher centre). Guru masih banyak untuk menuntut bukan menuntun. Guru menuntut anak semuanya harus memiliki pengetahuan, keterampilan, bakat, dan potensi yang sama padahal setiap anak adalah unik dengan kodrat alam yang berbeda-beda. Pembelajaran kurang memperhatikan kodrat alam anak yaitu bermain, sehingga pembelajaran cenderung membosankan bagi anak.  Pembelajaran yang menyenangkan (Fun learning) juga masih jarang terjadi karena lebih didominasi upaya memberikan muatan materi sebanyak-banyaknya agar dapat mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang sudah ditetapkan.

Berdasarkan fakta pendidikan yang belum sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan, maka perlu dilakukan upaya menerapkan pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan sebuah aksi nyata terutama pembelajaran yang dapat memperhatikan kodrat anak, yaitu bermain. Dunia anak adalah dunia bermain, bagi mereka bermain adalah sebuah keseriusan. Salah satu cara mengemas permainan dalam pembelajaran adalah dengan gamifikasi. Gamifikasi adalah upaya memciptakan sebuah game/permainan yang mendidik yang dapat mengemas materi-materi pembelajaran. Dengan gamifikasi anak akan terbawa dalam permainan yang akan mengolah pikiran mereka, karena untuk dpat memenangkan game tersebut mereka harus belajar materi  yang disajikan. Pada akhirnya akan tercipta suasana bermain tapi belajar, belajar tetapu bermain. Hal ini sangat sesuai dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa kodrat anak adalah bermain. Maka aksi nyata pada modul 1.1. ini berjudul “Gamifikasi IPA Sebagai Upaya Pembelajaran Menyenangkan Sesuai Kodrat Alam Anak”.

 

B.     Tujuan

Tujuan dari aksi nyata ini adalah:

1.      Menerapkan student centre dalam pembelajaran

2.      Menerapkan pembelajaran yang menyenangkan (fun learning) sesuai dengan kodrat anak yaitu bermain melalui gamifikasi IPA.

3.      Mengolah budi pekerti (olah pikir, olah rasa, dan olah indera) melalui gamifikasi.

 

C.    Deskripsi Aksi Nyata

1.      Perencanaan

Pada tahap perencanaan, yang dilakukan adalah:

a.       Mencari informasi gamifikasi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran.

b.      Membuat perangkat pembelajaran sebagai pedoman pembelajaran.

c.       Membuat tampilan gamifikasi sebagai media pembelajaran.

d.      Melakukan koordinasi dengan Wakil kepala sekolah urusan kurikulum dan Kepala sekolah terkait aksi nyata.

 

2.      Pelaksanaan

Pelaksanaan aksi nyata dilakukan pada pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Berdasarkan hasil koordinasi dengan waka kurikulum dipilihlah kelas 7 sebagai kelas yang mendapatkan perlakuan gamifikasi. Kelas 7 dipilih dikarenakan motivasi belajar mereka masih rendah sehingga diharapkan dengan pembelajaran yang menyenangkan melalui gamifikasi maka anak kelas 7 akan lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran.

Gamifikasi dilakukan pada materi suhu dan kalor semester gasal. Pada awal pembelajaran, guru memberikan apersepsi dan motivasi belajar serta menyampaikan tujuan pembelajaran. Memasuki kegiatan inti, guru membagikan link gamifikasi kepada anak. Dengan sedikit penjelasan, anak langsung paham bagaimana memainkannya dan apa Goal permainannya. Anak diberikan alokasi wkatu untuk memainkan gamifikasi tersebut.

Pada awal permaian (bisa dianggap sebagai pretes) anak-anak mengeluh karena skor mereka yang rendah dan mereka sangat tidak puas dengan hasil permainannya. Hal ini sesuai dengan pimikiran KHD bahwa bermain adalah sebuah keseriusan bagi anak. Mereka pasti ingin mendapat skor tinggi skor maksimal.  Setelah mendapat hasil permainan awal dengan rasa keinginan anak yang tinggi untuk menang, maka guru menyuruh anak untuk belajar materi kalor dari berbagai sumber baik buku maupun internet agar dapat memenangkan game. Merekapun langsung antusias untuk belajar.

Setelah selesai mempelajari materi, guru mengadakan lomba game yang kedua disertai peringkat level skor. Anak-anakpun antusias berlomba-lomba untuk mendapatkan skor tertinggi. Di akhir pembelajaran diperoleh anak dengan peringkat tertinggi. Pembelajaran diakhiri dengan guru berkolaborasi dengan anak untuk menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan melalui gamifikasi.

 

D.    Hasil Aksi Nyata

1.      Melalui gamifikasi, terwujud pembelajaran yang menyenangkan (fun learning).

2.      Anak lebih semangat belajar sambil bermain-bermain sambil belajar. Hal ini terlihat dari antusiasme anak-anak untuk mempelajari materi demi mendapatkan skor tertinggi.

3.      Antusiasme anak yang tinggi dalam belajar dikarekan pembelajaran yang sesuai dengan kodrat anak, yaitu bermain, bagi anak permainan adalah sebuah keseriusan.

4.      Guru dapat menerapkan pembelajaran yang berpusat pada anak (student centre). Guru hanya sebagai fasilitator selama pembelajaran.

5.      Kemerdekaan belajar pun dapat terwujudkan karena guru memberikan kebebasan kepada anak untuk menggali ilmu dari berbagai media yang mereka punya dan mereka sukai.

6.      Melalui gamifikasi, pembelajaran dapat mengolah pikiran anak untuk memahami materi, indera anak dalam memainkan game, serta perasaan anak bagaimana rasanya  menang mencapai skot tertinggi dengan berjuang (belajar) lebih dahulu.

 

E.     Refleksi Aksi Nyata

Gamifikasi dalam pembelajaran dapat menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan (fun learning). Pembelajaran dengan permainan (gamifikasi) sangat sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa kodrat anak adalah bermain. Pembelajaran yang sesuai dengan kodrat anak ini lah yang diharapkan dapat dilakukan oleh semua guru agar anak-anak dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat

Secara umum gamifikasi dalam pembelajaran berjaland engan lancar dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Sedikit yang menjadi kendala dalam pelaksanaan aksi nyata ini adalah ketika pembelajaran menggunakan sarana HP android untuk gamifikasi, anak-anak jadi sering mengecek HP nya saat pembelajaran berlangsung. Hal ini terkadang menyebabkan akan kurang fokus pada pembahasan materi yang sedang dilakukan.

 

F.     Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Rencana perbaikan di masa mendatang adalah ketika pembelajaran menggunakan sarana HP android untuk gamifikasi, maka perlu adanya kesepakatan kelas tentang kapan menggunakan HP dalam belajar, kapan harus fokus dengan pembelajaran langsung di kelas oleh guru sehingga pembelajaran tetap berjalan dengan kondusif.

Rencana selanjutnya adalah bekerja sama dan berkolaborasi dengan guru Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) agar dapat meningkatkan kemampuan mengemas materi dalam permainan (gamifikasi). Selain itu, dalam pelaksanaan pembelajaran perlu ditingkatkan managemen waktu terutama saat mamainkan game dengan HP android. Agar saat pembelajaran sudah tidak menggunakan HP lagi, maka anak tetap fokus pada proses pembelajaran terutama saat berkolaborasi dengan guru dalam menyimpulkan pembelajaran.

Rencana ke depan semoga dapat berkolaborasi dengan semua guru mata pelajaran tentang pemanfaatan gamifikasi dalam pembelajaran, sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan sesuai kodrat anak disemua pembelajaran.

 

G.    Dokumentasi Kegiatan



Gambar 1. Proses Pembuatan Gamifikasi

Membuat game menggunakan worldwall.net jenis Maza chase. Game memuat materi tentang kalor kelas 7 semester gasal



Gambar 2. Ice breaking

Pada awal pembelajaran, guru melakukan ice breaking. Hal in bertujuan untuk membangun suasana menyenangkan di kelas serta untuk meningkatkan fokus anak pada pembelajaran.



Gambar 3. Penjelasan Gamifikasi

Guru menyampaikan kegiatan dan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan. Membagikan link gamifikasi dan menjelaskan cara memainkan permainan.



Gambar 4. Anak sedang memainkan Game materi Kalor

Melalui HP android masing-masing, anak memainkan game yang diberikan guru. Anak antusias memainkan game dan berlomba untuk mendapatkan skor tertinggi

Rabu, 26 November 2014

KISI-KISI UAS

KISI-KISI UAS

Ujian Akhir Semester 2014/2015 akan dilaksanakan mulai pada tanggal 1 Desember 2014.
Untuk kelas VII dan VIII menggunakan Kurikulum 2013 sedangkan kelas IX masih menggunakan KTSP. Bagi yang membutuhkan kisi-kisi UAS, mungkin file di bawah ini bisa menbantu anda.

Kisi-Kisi UAS kelas VII Kurikulum 2013 download di sini
Kisi-Kisi UAS kelas VIII Kurikulum 2013 download di sini
Kisi-Kisi UAS kelas IX Kurikulum 2013 download di sini

Selasa, 28 Oktober 2014

KISI-KISI UJIAN NASIONAL 2014/2015

        Ujian Nasional agaknya masih akan dilaksanakan pada tahun 2014 ini sebagai indikator kelulusan siswa. UN tahun 2014 ini adalah UN terakhir untuk masa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Hal ini dikarenakan tahun depan Kurikulum 2013 menurut rencana akan diberlakukan kepada seluruh jenjang SD maupun SMP. 
        Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) melalui Peraturan No 0027/P/BSNP/IX/2014 telah menetapkan tentang Kisi-Kisi UN untuk satuan pendidikan dasar dan menengah tahun pelajaran 2014/2015. Sekilas kisi-kisi UN 2014/2015 initidak jauh berbeda dengan kisi-kisi UN tahun 2013/2014 kemarin. 
Bagi yang belum memiliki Kisi-Kisi UN 2014/2015 silahkan download di sini.

  AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID   JURNAL LITA JURNAL LITERASI dan BERCERITA SEBAGAI PROGRAM MEN...